3 Mahasiswa UI Rancang Rumah Ramah Lingkungan, Biaya Konstruksi 3 Kali Lebih Murah

Senin, Desember 19, 2022 Jarmani. S.Pd, M.Pd 0 Comments



Tiga mahasiswa Departemen Teknik Sipil dan Lingkungan Fakultas Teknik Universitas Indonesia (DTSL FT UI) menjuarai lomba esai yang diadakan Himpunan Mahasiswa Teknik Sipil Universitas Trisakti, berkat rancangan rumah ramah lingkungan.
Ketiga mahasiswa ini adalah Juan Fidel Ferdani, Elgrytha Victoria Tybeyuliana, dan Nada Laili Nurfadhilah. Mereka mendapat bimbingan dari dosen DSTL FT UI, Dr Nyoman Suwartha, ST, MT, MAgr.

Konsep rumah ramah lingkungan berbasis green material itu diberi nama HOMIE, House of Modular, Instant, and Economic (HOMIE).

Mengutip sebuah artikel ilmiah berjudul "Penggunaan dan Hambatan Green Material pada Perumahan Sederhana di Kota Surabaya dan sekitarnya" tulisan Christian Chandra dkk dari Universitas Kristen Petra, green material adalah bahan yang menggunakan sumber daya alam yang terdiri atas elemen terbarukan.

Pada kompetisi tersebut, Juan dan kawan-kawan meraih juara 2 untuk subtema esai Penerapan Material Ramah Lingkungan dan Material Pelaksanaan Konstruksi Ramah Lingkungan pada Bangunan Rumah Tinggal.

Metode Konstruksi Konvensional Makan Lebih Banyak Waktu
Konsep rumah ramah lingkungan HOMIE berangkat dari masih banyaknya masalah dalam penerapan metode konstruksi konvensional yang memakan lebih banyak waktu. Hal ini disebabkan efisiensi yang rendah dan konsumsi energi global.

Mengutip laman Fakultas Teknik UI, menurut Data Global Alliance for Building and Construction (2021), sektor konstruksi bertanggung jawab atas 37 persen emisi karbon dioksida dan 36 persen konsumsi energi global.


"Konsep rumah ini terinspirasi dari permainan anak-anak, yaitu lego. Konsep lego direpresentasikan melalui penerapan metode konstruksi modular dalam proses pembangunannya," kata Juan, salah satu mahasiswa perancang HOMIE.

Tak seperti metode konstruksi konvensional, metode konstruksi modular tidak melakukan pembangunan struktur pada lokasi konstruksi secara langsung, melainkan membuat komponen struktur modular secara terpisah pada pabrik fabrikasi.

"Konsep HOMIE dapat menjadi solusi terhadap permasalahan metode konstruksi konvensional di Indonesia," ujar Juan.

Lebih Cepat, Murah, dan Ramah Lingkungan
HOMIE menggunakan metode konstruksi modular yang lebih cepat, murah, dan ramah lingkungan. Berdasarkan perhitungan tim, biaya konstruksi rumah HOMIE dapat ditekan sampai tiga kali lebih murah dibandingkan biaya konstruksi rumah konvensional umumnya.

Penggunaan green material berupa limbah kaca sebagai substitusi parsial semen pada beton, bisa mengurangi produksi dan penggunaan semen. Oleh sebab itu, konsep rumah HOMIE mampu mengurangi emisi karbon yang dihasilkan saat proses produksi semen.

Dr Nyoman Suwartha menjelaskan, semen yang merupakan salah satu komponen utama beton pada material konstruksi adalah salah satu material yang berimbas buruk pada lingkungan. Sementara, pada konstruksi HOMIE digunakan limbah kaca sebagai substitusi parsial semen dalam membuat beton bertulang.

"Berdasarkan hasil pengujian kuat tekan, kami temukan bahwa menggunakan komposisi susbtitusi limbah kaca sebesar 20%, beton yang dihasilkan dapat mencapai kuat tekan hingga 60 Mpa dalam waktu 365 hari. 13,2% lebih kuat dibandingkan dengan beton normal tanpa substitusi," papar Nyoman.

Dekan FT UI, Prof Dr Heri Hermansyah, ST, MEng, IPU menuturkan harapannya atas konsep HOMIE ke depannya. Menurutnya, rancangan tiga mahasiswa ini bisa jadi alternatif solusi penyediaan rumah layak huni yang lebih terjangkau.

"Di tengah segala keterbatasan, inovasi HOMIE dapat menjadi solusi yang aplikatif dalam mengatasi permasalahan sektor konstruksi di Indonesia," urainya.

"HOMIE juga memberikan solusi efektif dan implementatif, yaitu penerapan metode konstruksi modular untuk menyediakan hunian layak huni untuk ikut serta mewujudkan target SDGs poin 11 dan 13 di Indonesia," pungkas Prof Heri.

Sumber : detik,com

0 comments: