7 Tradisi Unik di Indonesia, Ada Bakar Batu-Kerik Gigi!

Jumat, Desember 02, 2022 Majalah Holiday 0 Comments

Foto: ANTARA FOTO/Gusti Tanati

Indonesia merupakan negara kepulauan yang kaya akan suku, etnis, dan kepercayaan. Dari ujung barat sampai ke ujung timur, Indonesia memiliki beragam tradisi yang masih dijaga hingga sekarang.
Bahkan, sejumlah daerah memiliki tradisi-tradisi yang unik. Tradisi dan adat istiadat menjadi kebanggaan bagi bangsa Indonesia.

Melansir dari buku 100 Tradisi Unik di Indonesia karya Fatiharifah, berikut sejumlah tradisi yang ada di Indonesia.

7 Tradisi Unik yang Ada di Indonesia

1. Tradisi Bakar Batu dari Papua
Tradisi bakar batu ini merupakan salah satu ritual yang terbilang unik di Papua. Biasanya tradisi bakar batu dilakukan oleh suku pedalaman Papua dengan nama yang berbeda-beda.

Ritual ini memasak dengan menggunakan batu yang panas sekali. Beberapa suku yang masih menerapkan tradisi bakar batu adalah Lembah Baliem, Paniai, Nabire, Pegunungan Tengah, Pegunungan Bintang, Jayawijaya, dan lain sebagainya.

Batu-batu itu dibakar sampai panas hingga berubah warna menjadi merah membara. Selama menunggu batu panas, warga menggali lubang yang dalam dan memberi daun pisang untuk alang-alang di dasarnya. Batu panas nantinya diletakkan di dasar lubang, lalu di atas batu tersebut ditumpuk daun pisang dan diletakkan daging babi.

Tradisi bakar batu merupakan wujud syukur, bersilaturahmi antar saudara dan kerabat, menyambut kebahagiaan seperti perkawinan, kelahiran, penobatan, hingga menyambut tamu.

2. Balimau Kasai dari Riau
Tradisi unik selanjutnya adalah balimau kasai dari Riau. Tradisi ini biasa diterapkan menjelang bulan Ramadan. Balimau berarti mandi dengan menggunakan air yang dicampur jeruk khusus seperti jeruk purut, jeruk nipis, dan jeruk kapas.

Sementara itu, kasai artinya wewangian yang dipakai saat berkeramas. Kasai dipercaya dapat mengusir rasa dengki yang ada di kepala.

Tradisi tersebut berasal dari penduduk Sungai Gangga (India) yang menyucikan diri di sungai agar dosa-dosa mereka hilang bersama aliran sungai. Balimau Kasai berkembang di Indonesia, terutama di Kampar ketika agama Hindu menyebar.

Namun, setelah masuknya budaya Islam tradisi ini masih kerap ditemui dengan tujuan menyambut bulan Ramadan. Balimau Kasai juga disebut sebagai ungkapan rasa syukur dan kegembiraan memasuki bulan Ramadan.

3. Kerik Gigi dari Suku Mentawai
Ritual kerik gigi dilakukan oleh masyarakat suku Mentawai, Sumatera Barat. Wanita suku Mentawai harus meruncingkan atau mengerik gigi mereka. Gigi yang runcing menjadi simbol kecantikan wanita di daerah sana.

Selain sebagai simbol kecantikan, tradisi ini juga bertujuan untuk mendapatkan kedamaian jiwa. Prosesinya sendiri cukup menyakitkan.

Ketua adat melakukan hal ini tanpa pemberian bius terlebih dahulu. Alat yang digunakan adalah besi atau kayu yang telah diasah. Kerik gigi membutuhkan waktu yang tidak sebentar.

Meski begitu, seiring perkembangan zaman tradisi mengerik gigi mulai ditinggalkan. Namun, tetap saja beberapa wanita melaksanakan tradisi ini, khususnya istri kepala desa.

4. Fahombo Batu dari Nias
Tradisi unik selanjutnya berasal dari Nias, Sumatera Utara dan hanya dilakukan oleh lelaki. Fahombo batu atau lompat batu menjadi salah satu ritual yang terkenal di sana.

Namun, tidak semua daerah di Nias memiliki tradisi ini. Salah satu yang masih melakukannya adalah di wilayah Teluk Dalam. Tradisi fahombo batu telah lama dilaksanakan, bahkan hingga berabad-abad dan secara turun-menurun.

Anak lelaki yang berumur tujuh tahun di Nias sudah berlatih lompat tali. Ketinggian tali tersebut akan bertambah seiring bertambahnya usia mereka. Nantinya, lelaki tersebut akan diminta melompati batu setinggi 2 meter dan lebar 60-90 cm.

5. Tabot dari Bengkulu
Tradisi tabot merupakan salah satu tradisi unik yang berasal dari Bengkulu. Tabot artinya kotak kayu atau peti yang berasal dari bahasa Arab.

Tabot dimaksudkan untuk mengenang kisah kepahlawanan Husein, cucu Rasulullah SAW yang gugur pada Perang Karbala tahun 681 M di bulan Muharram. Tradisi ini berasal dari pekerja yang membangun benteng Marlborough (1718-1719).

Mereka berasal dari India yang dipekerjakan oleh Inggris. Karena merasa cocok dengan keadaan di Bengkulu, mereka pun menetap dan menyelenggarakan tabot. Lambat laun tradisi tersebut mengalami perubahan, tidak untuk mengenang Husein, namun juga memenuhi wasiat leluhur.

6. Bakar Tongkang dari Riau
Di Riau ada yang namanya tradisi bakar tongkang. Masyarakat Tionghoa di Riau mengadakan ritual tersebut setiap bulan Juni.

Ritual tersebut dimaksudkan sebagai wujud syukur karena para leluhur berhasil membawa keluarganya menetap di perantauan hingga saat ini. Kapal tongkang diibaratkan sebagai kapal yang membawa leluhur mereka hingga ke Bagasiapiapi Riau.

7. Timba Laor dari Maluku
Tradisi selanjutnya adalah timba laor dari Maluku. Ritual menangkap cacing laut atau laor di pantai Namalatu, Desa Latuhalat, Ambon telah berlangsung selama ratusan tahun.

Kandungan protein dari cacing laut sangat tinggi dan dapat diolah menjadi berbagai makanan tradisional. Laor merupakan cacing laut yang muncul setahun sekali, tepatnya antara bulan Maret dan April.

Yang lebih uniknya, laor hanya muncul saat purnama pasang tertinggi dan hanya muncul di daerah pantai berkarang. Munculnya laor dipengaruhi oleh siklus Bulan dan Matahari.

Prosesi menangkap cacing laut dimulai dengan upacara adat. Nantinya, mereka menggunakan alat tangkap berupa nyiru atau kain kasa yang diikat pada sebatang kayu sebagai pegangan.


Sumber : detik.com

0 comments: