Alat Belajar untuk Siswa Tuli Antar Mahasiswa 5 PTN Raih Emas di Tanoto Award

Rabu, Desember 14, 2022 Jarmani. S.Pd, M.Pd 0 Comments



Delegasi Universitas Brawijaya (UB) membawa pulang 13 medali emas, tujuh medali perak, dan tiga medali perunggu lewat inovasi alat peraga pendidikan berbasis teknologi dalam Tanoto Student Research Award (TSRA) awal November lalu.

Konsep TSRA pada tahun ini berbeda dari yang sebelumnya. Para mahasiswa diharuskan membentuk tim yang terdiri dari lima perguruan tinggi mitra Tanoto.

Salah satu peraih emas asal UB adalah Andi Alifsyah Dyasham. Dia berkolaborasi bersama kawan-kawan asal Universitas Indonesia (UI), Institut Teknologi Bandung (ITB), Institut Pertanian Bogor (IPB), dan Universitas Diponegoro (Undip).

Keempat mahasiswa ini adalah Patricia Quina Gita Naviri dari Fakultas Hukum UI, Dina Ferdinasari dari Fakultas Teknologi Industri ITB, Gilang Ramadhan dari Fakultas Teknologi Pertanian ITB, dan Samuel Miduk Anugrah Pasaribu dari Fakultas Teknik Undip.

Alif dan tim meraih emas karena kepiawaian menciptakan inovasi bertajuk TERANA (Teman Indra Indonesia): Paket Media Pembelajaran Siswa Tuli berbasis Website.

Alif bercerita kepada detikEdu pada Sabtu (3/12/2022), alat bernama TERANA itu dikatakan sebagai sebuah paket pembelajaran karena isinya mencakup website, flashcard (kartu yang dapat di-scan dan memunculkan video di website), serta LKS (lembar kerja siswa).

Istimewanya, website yang dibuat oleh Alif dan tim dilengkapi dengan voice recognition atau pengenal suara untuk siswa tuli.

"Teman- teman tuli ini kan perlu latihan ngomong. Ketika mereka ingin melatih ngomong, mereka membutuhkan pendamping. Fitur voice recognition di websitenya bisa membantu teman-teman berbicara tanpa ada pendampingnya," jelas Alif secara antusias saat dihubungi.


Mahasiswa ini menerangkan, teman-teman tuli yang belajar dari LKS cukup menyebutkan kata yang dipelajari dan website yang mereka buat akan menilai apakah sudah sesuai atau belum.

Dirancang untuk Siswa SD
Alif menuturkan, dia dan tim menemukan gap antara kebutuhan teman-teman tuli, khususnya yang masih sekolah dasar (SD), dengan fasilitas untuk belajar.

"Padahal ini (jenjang SD) adalah waktu yang tepat untuk perbendaharaan kata-kata. Harus ada pendamping dan fasilitas tertentu yang membantu mereka untuk belajar," ucapnya.

Tim dari lima kampus di sekujur Pulau Jawa ini menemukan, ada beberapa daerah bahkan yang masih termasuk dalam wilayah kota besar sekalipun, mengalami kekurangan fasilitator untuk siswa tuli.

"Ada beberapa daerah di Bandung yang masih kekurangan fasilitator siswa tuli yang ingin belajar," ujar dia.

"Mengingat saat ini sudah era teknologi, di mana pengembangan aplikasi digital sudah mudah dan gampang diharapkan oleh masyarakat. Jadi, kita berpikir kenapa enggak memanfaatkan teknologi-teknologi digital saat ini," lanjutnya.

Membagi Pekerjaan karena Lokasi yang Berjauhan
Menjaga koordinasi dengan jarak yang terpencar di penjuru Jawa, diakui Alif bukan hal yang cukup mudah. Keterbiasaan menggunakan media daring menurutnya membantu pekerjaan tim.

"Kami agak kesulitan koordinasi gitu karena jaraknya sangat jauh, sulit untuk dijangkau gitu," ungkapnya.

"Terus juga karena salah satu tempat studinya kami di Bandung. Di Bandung itu tempat pengujian kami, tempat membangun kurikulum dan sebagainya, pusatnya di sana istilahnya. Jadi, ya kita bisa membebankan itu ke satu orang saja yang teman dari ITB tadi itu," sambungnya.

Kelima mahasiswa ini pun mengakali jarak dengan membagi tim ke dalam dua tugas utama. Kawan-kawan Alif dari UI, ITB, dan IPB bertugas menyusun kurikulum. Sementara, dia dan teman Undip-nya merancang kebutuhan teknologi karena sama-sama dari bidang Ilmu Komputer.

Sedang Mengajukan Paten
Para mahasiswa ini tengah mengajukan paten supaya produk mereka diakui secara hukum. Menurut Alif, revisi dan masukan dosen mengatakan bahwa proyek yang tengah dikembangkan ini dapat menjembatani masalah yang dialami siswa-siswa tuli.

"Mungkin bisa dibuktikan dengan pencapaian-pencapaian. Menurut kami sudah cukup memvalidasi bahwa bisa kok aplikasi ini membantu apa yang benar-benar ada di masyarakat," urai Alif.

Menurutnya, tim ini berencana mengembangkan produknya supaya menjangkau lebih luas. Terlebih jika ke depannya mendapatkan pendanaan, sebab salah satu kendala mengapa belum dapat diproduksi lebih banyak adalah terkait finansial.

Mahasiswa Universitas Brawijaya ini mengatakan, website mereka kini pun sebenarnya bisa diakses. Alamatnya di http://teranaeducation.id/.

Sumber : detik.com

0 comments: