Gagas Ubah Sampah Plastik Jadi Listrik, Begini Ide Tiga Mahasiswa ITB

Rabu, Desember 14, 2022 Jarmani. S.Pd, M.Pd 0 Comments



Tiga mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB) baru-baru ini meraih dua gelar juara di kompetisi paper pengadaan energi listrik dari sampah (waste to energy/WTE). Mereka bahkan masih menjalani Tahapan Persiapan Bersama (TPB) atau di tahap awal kuliah ITB.

Ketiga mahasiswa ITB tersebut yaitu Earron Keane Won, Christopher Abigail Surya, dan Catherine Nathania Christianto dari Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati- Rekayasa (SITH-R) ITB.

Mereka yang tergabung dalam Tim Piwpiw ini dibimbing oleh Dr rer nat Fifi Fitriyah Masduki, SSi, MSc dari Kelompok Keahlian (KK) Biokimia dan Wardono Niloperbowo, PhD dari KK Fisiologi ITB.

Christopher mengatakan, gagasan mereka berangkat dari masalah sampah plastik di Indonesia dan keterbatasan suplai listrik di beberapa daerah. Tim Piwpiw lalu mencoba menghubungkan kedua masalah ini dengan solusi sistem waste to energy.

Di kompetisi pertama pada HVL National Competition, mereka yang tergabung sebagai Tim Piwpiw ini mengangkat gagasan berjudul Manfaat Pengolahan Sampah Plastik Menjadi Energi Listrik.

Lalu di kompetisi kedua pada International Competition UI Youth Environmental Action, masih dengan ide sistem yang sama, ketiganya menganalisis manfaat dan peluang ekonomi sistem pengadaan listrik dari sampah.

Dalam kompetisi tersebut gagasan mereka dituangkan dalam paper Innovative Approach to Safeguarding the Environment: Implementing the Transformation of Plastic Wastes to Electrical Energy in the Green Industry.

Dari Sampah Plastik Jadi Listrik
Christopher menjelaskan, sistem WTE usulan Tim Piwpiw memanfaatkan pembakaran sampah plastik. Agar minim polusi, sistem dibuat tertutup.

Panas hasil pembakaran sampah lalu dimanfaatkan untuk memanaskan air. Uap air yang terbentuk dapat menggerakkan turbin generator pembangkit listrik.


Lalu, sisa asap pembakaran juga dapat dikondensasikan ulang untuk diubah menjadi biofuel serta produk sampingan lain.

"Menurut kami, sistem WTE ini sangat cocok diterapkan di Indonesia karena berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), pada tahun 2019 Indonesia sendiri sudah menjadi penghasil sampah plastik kedua terbesar setelah China," kata Christopher, dikutip dari laman ITB, Selasa (13/12/2022).

"Karena itu, sistem WTE ini tidak akan kehabisan raw materials (bahan baku), melainkan akan mengurangi sampah berbahaya yang sulit terurai, membantu mengatasi pemanasan global, dan menaikkan ekonomi negara," imbuhnya.

Peluang ekonomi sistem WTE Tim Piwpiw lebih lanjut digali di paper kompetisi kedua mereka.

Di kompetisi ini, mereka melihat lebih jauh potensi besaran energi listrik yang bisa dihasilkan dari sistem WTE. Besaran tersebut digunakan untuk kalkulasi pengurangan subsidi pemerintah dalam menyediakan listrik bagi masyarakat.

Tim Piwpiw juga mengusulkan kerja sama PLN dengan sektor privat yang menggunakan sistem waste to energy. Harapannya, penyediaan listrik lebih efektif dan efisien.

Bisa Diterapkan di Indonesia?
Menurut Earron, Indonesia sudah bisa jadi pemain sistem WTE untuk menyediakan listrik karena tidak terlalu kompleks dan bahan baku melimpah.

Ia mengatakan, beberapa negara juga telah berhasil mengadopsi sistem waste to energy lebih dulu, seperti Singapura, Swedia, dan Nigeria.

"Untuk kelayakan sebenarnya layak karena teknologi yang dibutuhkan juga sudah ada yaitu PLTSa (Pembangkit Listrik Tenaga Sampah). Hanya saja perlu dimodifikasi menjadi sistem tertutup dan ditambah mesin pyrolysis. Uap turbin generator juga menghasilkan produk-produk berguna dengan net zero carbon emission," jelas Earron.

Di sisi lain, tantangan yang perlu dihadapi untuk penerapan pengolahan sampah jadi listrik antara lain mendorong masyarakat disiplin memilah sampah dan investasi privat.

"Kalau sistem WTE ini tantangannya berupa modal yang dibutuhkan serta kerja sama pemerintah, masyarakat, dan swasta. Selain itu, yang perlu diperbaiki mulai sekarang adalah perilaku masyarakat soal kedisiplinan mereka dalam memilah sampah. Karena masing-masing jenis sampah menghasilkan produk sampingan yang berbeda ketika dibakar," pungkas Catherine dan Earron.

sumber : detik.com

0 comments: