Harga BBM Naik, Apa Dampaknya?

Senin, Desember 19, 2022 Jarmani. S.Pd, M.Pd 0 Comments



Wacana harga BBM naik untuk jenis Pertalite dan Pertamax pada 1 September 2022 beredar di tengah masyarakat. Harga Pertalite dikabarkan dapat naik ke kisaran Rp 8.500-Rp 10.000 per liter dari harga Rp 7.650 per liter saat ini.
Merespons kabar kenaikan harga BBM, pakar ekonomi energi Universitas Gadjah Mada (UGM) Dr. Fahmy Radhi, MBA, mengatakan, ada sejumlah dampak yang terjadi bila harga BBM naik. Salah satunya yakni menjadi beban rakyat yang tidak memiliki kendaraan bermotor. Kok bisa?

Dampak Harga BBM Naik Menurut Pakar UGM
Menyulut Inflasi
Menurut Fahmi, jika harga Pertalite naik menjadi Rp10.000 dan harga Solar naik menjadi Rp8.500, maka masyarakat akan merasakan inflasi keuangan.

Ia menjelaskan, kontribusi inflasi dampak kenaikan harga Pertalite diperkirakan sebesar 0,93 persen, sedangkan kenaikan harga Solar sekitar 1,04 persen.

Lebih lanjut, inflasi dari harga Pertalite dan Solar naik ini diperkirakan bisa mencapai 1,97 persen. Padahal, inflasi pada Juli 2022 sudah mencapai 5,2 persen sehingga total inflasi akan mencapai 7,17 persen.

Daya Beli dan Pertumbuhan Ekonomi Turun
Fahmi menjelaskan, inflasi 7,17 persen, jika dibandingkan dengan inflasi pada 2021 yang hanya di kisaran 3 persen year on year (yoy), akan memperburuk daya beli dan konsumsi masyarakat. Inflasi 7,17 persen juga akan menurunkan pertumbuhan ekonomi 5,4 persen yang sudah susah-payah diupayakan.


Jadi Beban Warga yang Tidak Punya Kendaraan
Fahmi menambahkan, dampak inflasi sebesar 7,17 persen juga tidak hanya membebani warga yang memiliki kendaraan bermotor, namun juga mencakup rakyat miskin yang tidak mempunyai kendaraan bermotor dan tidak merasakan subsidi BBM.

Sebab, inflasi berdampak pada kenaikan harga-harga kebutuhan pokok yang turut membebani rakyat, terutama rakyat miskin. Padahal, bagian masyarakat Indonesia ini tidak ikut menikmati subsidi BBM karena tidak punya kendaraan bermotor, tetapi jadi harus berkorban akibat kenaikan harga BBM subsidi.

"Karenanya dalam berbagai kesempatan, Presiden Joko Widodo mengatakan bahwa opsi kebijakan yang akan dipilih terkait subsidi BBM adalah tidak memberatkan beban rakyat miskin. Berdasarkan pernyataan Jokowi itu sesungguhnya mengisyaratkan bahwa Jokowi tidak menaikkan harga BBM Subsidi dalam waktu dekat ini karena pertaruhannya cukup besar," ujar Fahmy di lamanUGM, dikutip 

Fahmy menambahkan, di samping pengeluaran riil subsidi BBM (cash out flow) yang menjadi beban APBN, tetap ada tambahan pemasukan riil (cash inflow) di APBN akibat kenaikan harga komoditas ekspor yang meningkat.

"Berdasarkan komposisi tambahan pemasukan dan pengeluaran APBN 2022, sesungguhnya tidak ada urgensi menaikkan harga BBM subsidi pekan ini, bahkan tidak juga tahun ini," kata Fahmi.

Ia menggarisbawahi, saat ini, yang dikenal sebagai bebas subsidi energi juga sebenarnya adalah total 'anggaran subsidi energi.' Total beban APBN sebesar Rp 502,4 triliun tidak hanya terdiri dari subsidi BBM saja, tetapi juga LPG 3 kg dan listrik yang dihutung berdasarkan beberapa asumsi harga minyak dunia, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, dan inflasi.

Fahmy merinci, realisasi yang benar-benar dikeluarkan (cash out flow) per 31 Juli 2022 atas total subsidi energi baru sebesar Rp 88,7 triliun untuk subsidi BBM. Sementara itu, realisasi subsidi LPG 3 kg baru sebesar Rp 62,7 triliun.

Sumber : detik.com

0 comments: