Ini Prosesi yang Harus Dijalani Kalau Ingin Menikah dengan Adat Jawa

Rabu, Desember 14, 2022 Majalah Holiday 0 Comments


Rangkaian prosesi pernikahan Kaesang Pangarep dan Erina Gudono dimulai pada hari ini, Kamis (8/12). Rangkaian dimulai dengan agenda semaan atau pengajian di kediaman Erina di Solo, Jawa Tengah.

Keseluruhan rangkaian prosesi pernikahan keduanya mengusung konsep Jawa. Bagaimana sebenarnya rangkaian pernikahan adat Jawa?

Dalam prosesi pernikahan Jawa, seluruh kegiatan memiliki makna dan filosofinya bagi calon mempelai pengantin. Pernikahan adat Jawa sendiri dikenal memiliki banyak prosesi. Mulai dari siraman, seserahan, midodareni dan panggih, berikut daftar prosesi pernikahan adat Jawa.

1. Semaan atau pengajian
Pengajian biasa dilakukan oleh keluarga yang beragama Islam. Biasanya, dalam pengajian, pengantin akan memohon doa restu orang tua. Prosesi ini pun akan dilakukan dua hari sebelum pernikahan Kaesang-Erina.


2. Pasang tarub, bleketepe, dan tuwuhan
Setelah pengajian, upacara akan berlanjut ke pemasangan tarub, bleketepe, dan tuwuhan. Tarub diartikan sebagai peneduh di halaman rumah berhias janur.

Sementara bleketepe merupakan anyaman yang terbuat dari daun kelapa tua. Bleketepe jadi simbol penyucian diri.

Sementara tuwuhan berarti hasil pertanian yang dipasang dan disusun seperti pagar. Tuwuhan biasanya terdiri dari pisang raja, aneka dedaunan, dan janur.

3. Siraman
Siraman memiliki makna penyucian fisik dan batin dari masing-masing calon mempelai. Siraman harus dilakukan oleh orang tua dari calon mempelai atau orang yang dituakan dalam keluarga masing-masing. Proses dimulai dari orang tua kandung hingga tujuh sepuh di atasnya.

Siraman dilakukan secara terpisah, baik di kediaman calon mempelai wanita dan calon mempelai pria.

4. Bopongan

Prosesi bopongan dilakukan oleh kedua orang tua calon pengantin. Lewai prosesi ini, kedua orang tua menggambarkan rasa sayang dan kerelaan mereka untuk melepas anak-anaknya yang akan menikah.

Bopongan biasanya dilakukan setelah prosesi siraman usai. Bopongan dilakukan oleh seorang ayah yang menggendong putrinya atau calon mempelai wanita menuju kamar.

5. Sadean dawet
Dalam prosesi siraman, ada pula tradisi dodol dawet atau berjualan dawet. Namun, berjualan di sini tak menggunakan uang sesungguhnya, melainkan dengan kreweng atau koin yang terbuat dari tanah liat sebagai alat tukar.

Ritual ini mengandung harapan agar upacara pernikahan akan dikunjungi banyak tamu atau laris manis seperti dawet yang terjual.

6. Midodareni
Umumnya, ritual midodareni dilaksanakan di malam jelang upacara pernikahan. Midodareni berasal dari kata 'widodari' atau dalam bahasa Jawa berarti bidadari.
Malam midodareni diyakini sebagai waktu turunnya bidadari untuk menemui calon mempelai wanita. Bidadari akan membantu mempercantik calon mempelai sekaligus memberikan wejangan seputar pernikahan.

Menurut budayawan Jawa Irfan Afifi, dulunya calon pengantin benar-benar harus 'dikurung' di dalam kamar selama malam midodareni.

Namun, midodareni masa kini berlangsung cukup berbeda. Beberapa keluarga memperbolehkan kedua calon mempelai bertemu. Kemudian kesempatan ini juga digunakan untuk rapat panitia pernikahan dalam situasi yang lebih santai dan cair.

7. Akad nikah
Prosesi akad nikah merupakan prosesi paling sakral dalam sebuah pernikahan. Dalam agama Islam, akad nikah dilakukan dengan mengucapkan ijab kabul di depan penghulu dan saksi.

8. Pamitan
Pamitan adalah proses meminta restu kepada kedua orang tua untuk pergi dan menjalani kehidupan yang baru bersama pasangan hidupnya. Prosesi ini biasanya dilakukan usai akad nikah berlangsung.

9. Ngunduh mantu
Dalam bahasa Jawa, 'ngunduh' memiliki arti panen atau memanen. Sementara 'mantu' adalah menantu. Prosesi ini menandakan keluarga mempelai pria yang memiliki menantu perempuan baru.

Sebagai prosesi pelengkap, pesta lanjutan ngunduh mantu ini dijadikan momentum sebagai cara keluarga pengantin pria untuk memberi tahu kepada sanak saudara bahwa mereka memiliki anggota keluarga baru.


Sumber : detik.com

0 comments: