Keamanan hingga Budaya Jepang Komitmen Bawa Kerja Sama ASEAN ke Tahap Baru

Kamis, Desember 01, 2022 Majalah Holiday 0 Comments

Penyerahan surat mandat Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh Jepang untuk ASEAN yang baru, Kiya Masahiko, kepada Sekretaris Jenderal ASEAN, Lim Jock Hoi, di Sekretariat ASEAN di Jakarta pada Kamis (1/12). Dok: Jemima Shalimar/kumparan.

Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh Jepang untuk ASEAN yang baru, Kiya Masahiko, menegaskan komitmen untuk memperluas kerja sama selama melaksanakan mandatnya sejak Kamis (1/12).
Kiya baru saja menyerahkan surat mandat dari Menteri Luar Negeri Jepang, Yoshimasa Hayashi kepada Sekretaris Jenderal ASEAN, Lim Jock Hoi, di Sekretariat ASEAN di Jakarta.
Secara resmi, dia mengambil alih jabatan dari pendahulunya, Akira Chiba. Setelah upacara tersebut, Kiya mengungkapkan aspirasi-aspirasinya dalam mendalami hubungan Jepang-ASEAN.
Kiya mengatakan, Jepang berniat menjangkau semua bidang dari keamanan hingga pertukaran budaya. Sebab, dia menggarisbawahi, ASEAN tak hanya mengemban peran penting di kawasan Indo-Pasifik. Namun, organisasi geopolitik itu berada di pusat dunia pula.
"Sederhananya, untuk meningkatkan hubungan ASEAN-Jepang ke tahap baru di berbagai bidang mulai dari perdamaian dan keamanan, ekonomi dan isu global, hingga pertukaran budaya dan antar manusia," terang Kiya saat konferensi pers pada Kamis (1/12).

"Isu global meliputi kesehatan global, perubahan iklim dan dekarbonisasi, penanganan bencana," lanjut dia.
Penyerahan surat mandat Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh Jepang untuk ASEAN yang baru, Kiya Masahiko, kepada Sekretaris Jenderal ASEAN, Lim Jock Hoi, di Sekretariat ASEAN di Jakarta pada Kamis (1/12). Dok: Jemima Shalimar/kumparan.
Hubungan ASEAN-Jepang telah menyaksikan kemajuan signifikan sejak 1973. Jepang melakukan segala upaya untuk membangun kepercayaan dengan negara-negara anggota ASEAN.
Pihaknya berkomitmen sebagai mitra yang setara untuk membangun perdamaian dan kemakmuran di kawasan. Untuk merayakan tonggak hubungan ini, kedua belah pihak sepakat menetapkan 2023 sebagai Tahun ke-50 Persahabatan dan Kerja Sama ASEAN-Jepang.
Negara-negara anggota nantinya akan mendorong rakyatnya melakukan program pertukaran dan berbagai mengadakan peringatan sepanjang tahun mendatang baik di ASEAN maupun Jepang.
Salah satu upaya Jepang dalam memperluas relasi ini turut termanifestasi dalam Japan-ASEAN Integration Fund (JAIF).
JAIF bermula dari bantuan keuangan mantan Perdana Menteri Jepang, Junichiro Koizumi, bagi ASEAN pada 2005. Kala itu, Tokyo menggelontorkan dana sebesar JPY 7,5 miliar (Rp 857 miliar).
Penyerahan surat mandat Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh Jepang untuk ASEAN yang baru, Kiya Masahiko, kepada Sekretaris Jenderal ASEAN, Lim Jock Hoi, di Sekretariat ASEAN di Jakarta pada Kamis (1/12). Dok: Jemima Shalimar/kumparan.
Usai melanjutkan pembicaraan antara kedua belah pihak, JAIF Original dibentuk pada Maret 2006. Komponen itu mendanai berbagai proyek dari bidang kesehatan, kontra-terorisme, lingkungan, manajemen bencana, maritim, pertukaran pemuda, hingga ekonomi.
Secara keseluruhan, JAIF telah melaksanakan 500 proyek yang menghabiskan USD 762 juta (Rp 11,8 triliun) untuk memperkuat ikatan ASEAN-Jepang. Walau tidak membeberkan detail lebih lanjut, Kiya meyakinkan pihaknya akan memperluas inisiatif tersebut.
"Kami terus memperluas kerja sama kami dengan ASEAN ke Dana Integrasi Jepang-ASEAN (JAIF) yang digerakkan di bawah kerangka kerja ASEAN dan kami memperluas dukungan kami," jelas Kiya.
"Pentingnya ASEAN terlihat jelas dan saya senang bahwa Jepang dapat melakukan perannya sendiri dalam meningkatkan komunitas pusat ASEAN dan bersama-sama kita berkontribusi untuk kawasan dan dunia," sambung dia.
Selain membahas JAIF, Kiya juga merujuk pada ASEAN Outlook on the Indo-Pacific (AOIP) yang diadopsi anggotanya pada 2019.
Dokumen tersebut menyatakan arah kebijakan ASEAN dalam mempromosikan kerja sama di kawasan Indo-Pasifik.
Sebanyak 89 proyek telah dilaksanakan sejalan dengan empat bidang prioritas AOIP menjelang KTT ASEAN pada November. Kiya menambahkan, ini membuktikan pihaknya menepati janji mereka.
"Jepang menyatakan dukungannya terhadap AOIP," tegas Kiya.
"Saya berharap dapat bekerja sama dengan Sekretariat ASEAN di sini," pungkas dia.
Pria kelahiran 23 Desember 1964 ini memamerkan portofolio yang mengagumkan. Dia mulai bekerja dalam Kemlu Jepang pada 1987.
Dia menjabat di Kedubes Jepang di Amerika Serikat (AS), Bangladesh, hingga Belgia. Kiya juga pernah menjadi Direktur Biro Kebijakan Luar Negeri di Divisi Perencanaan dan Administrasi PBB pada 2008.
Kiya kemudian mengambil posisi Direktur Divisi Program Pengembangan Fasilitas di Biro Kerja Sama Lokal dalam Kementerian Pertahanan Jepang pada 2010. Dia melanjutkan kariernya dengan menjadi Dubes Jepang untuk Sudan Selatan pada 2015.
Sumber : cnnindonesia.com

0 comments: