Kenapa Covid China Naik Lagi sampai Warga Positif Diminta Tetap Kerja?

Selasa, Desember 20, 2022 Majalah Holiday 0 Comments

Ketika kebijakan lockdown ketat sudah dicabut, warga China kini dihadapkan dengan 'tsunami' kasus Covid-19 baru menyusul penularan virus corona terus melonjak. (AP/Andy Wong)

Jakarta, CNN Indonesia -- China masih terus menghadapi lonjakan kasus Covid-19 di sejumlah wilayah. Pada Senin (19/12), China melaporkan 2.722 kasus baru dan lima kasus kematian.

Jumlah itu meningkat dibanding hari sebelumnya yang mencapai 1.995 kasus. Pada Minggu (18/12), China juga melaporkan dua kasus kematian pertama sejak 3 Desember.

Lonjakan kasus Covid-19 di China ini menjadi sorotan dunia. Pasalnya, China baru-baru ini mencabut aturan ketat negara itu terkait Covid-19.

Pencabutan itu sendiri dilakukan setelah Beijing diprotes besar-besaran oleh penduduknya buntut kasus kebakaran di Urumqi, Xinjiang.

Saat itu petugas pemadam kebakaran dinilai terlambat datang ke lokasi lantaran terhambat penutupan jalan akibat lockdown yang berlaku di daerah itu.

Terkait lonjakan kasus, sejumlah ahli menilai pencabutan pembatasan di China itu menjadi dalang dari tingginya angka infeksi.

Dari pengakuan warga Beijing, mereka mengatakan banyak orang-orang terdekat mereka yang terinfeksi Covid-19 sejak Beijing mencabut aturan ketat pada 7 Desember lalu.

"Keluarga saya baik-baik saja, namun lebih dari separuh kolega saya mengidap Covid-19 sekarang," kata Yueying Wang kepada NBC News.

James Zimmermann, seorang pengacara di China, juga mengaku bahwa 90 persen rekannya di kantor jatuh sakit.

Pada Minggu (17/12), kota metropolis Chongqing bahkan mengumumkan pegawai sektor publik yang positif Covid-19 tetap bekerja "seperti biasa". Ini menunjukkan perubahan drastis kebijakan Covid-19 China yang sebelumnya menerapkan lockdown ketat suatu daerah meski hanya terdapat beberapa kasus positif virus corona saja.

"Pegawai (Partai Komunis) dan organisasi pemerintah yang tidak menunjukkan gejala dan sakit ringan di semua tingkatan perusahaan dan institusi dapat bekerja secara normal setelah mengambil tindakan perlindungan yang diperlukan untuk status kesehatan dan persyaratan pekerjaan mereka," bunyi pernyataan kantor tanggap pandemi Covid-19 Chongqing.

Dikutip CNN, pemerintah Chongqing menambahkan bahwa lembaga pemerintah tidak akan lagi melakukan tes Covid-19 kepada karyawan termasuk polisi, guru sekolah umum, dan pekerja lainnya setiap hari. Sebaliknya, pihak berwenang akan mengalihkan fokus pekerjaan dari pencegahan infeksi ke perlindungan kesehatan dan pencegahan penyakit parah, katanya.

Terlepas dari rasa lega lockdown berakhir, lonjakan kasus Covid-19 pun membuat masyarakat tetap khawatir dan berbondong-bondong memborong obat untuk disimpan di rumah. Toko-toko sampai kehabisan stok karena 'panic buying' tersebut.

Bukan cuma obat, masyarakat juga mulai membeli lemon dan persik sebagai alternatif medis. Kedua buah itu dipercaya mampu mengobati penyakit akibat Covid-19.

Profesor di Universitas Hong Kong, Jin Dong Yan, pun menilai tingginya kasus Covid-19 di Beijing ini seperti tsunami, alih-alih lonjakan.

"Ini bukan lonjakan, ini tsunami," kata Jin.

Meski begitu, pencabutan pembatasan sebagai penyebab awal gelombang kasus di China ini masih menjadi perdebatan.

Mike Ryan, direktur kedaruratan di Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), meyakini para pejabat China beranggapan bahwa lockdown "tidak akan menghentikan penyakit" hingga akhirnya memutuskan bahwa pembatasan bukan lagi pilihan terbaik.

Sejauh ini, sejumlah pihak memprediksi pencabutan pembatasan di China bakal memicu kasus kematian dalam waktu dekat.

Salah satunya Institute of Health Metrics and Evaluation (IHME) yang memperkirakan kasus kematian China bakal mencapai lebih dari satu juta hingga 2023. Direktur IHME Christopher Murray juga berpendapat sekitar sepertiga populasi di China bakal terinfeksi saat itu.


Sumber : cnnindonesia.com

0 comments: