Mengenal Arti Filosofis Kwangen dan Fungsinya

Senin, Desember 12, 2022 Majalah Holiday 0 Comments



Dalam acara sembahyang di adat Bali, salah satu hal yang wajib ada adalah Kwangen. Kwangen sendiri berasal dari bahasa Jawa Kuno, yang berarti wangi atau harum. Dengan demikian, Kwangen dapat diartikan sebagai sesuatu yang harum yang digunakan untuk menyembah Sang Hyang Widhi Wasa.

Kwangen biasa digunakan sebagai sarana dalam upacara keagamaan umat Hindu selain dupa-dupa dan bunga. Untuk kamu yang penasaran, mari belajar pengertian Kwangen beserta fungsinya berikut ini.

Apa Itu Kwangen
Dilansir dari skripsi Filosofi Kwangen Sebagai Simbolis Tuhan Yang Maha Esa karya Ni Gusti Ayu Putu Suryani, berdasarkan padanan katanya, kwangen berarti keharuman yang berfungsi untuk mengharumkan nama Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Kwangen digunakan sebagai isyarat agar bhakta senantiasa terus mengingat dan mengharumkan nama suci Tuhan.

Kwangen hampir selalu ada dalam upacara persembahyangan dan dalam upacara Panca Yadnya. Hal tersebut bertujuan untuk menekankan bahwa Tuhan adalah indah, suci, dan harum, sehingga harus disembah dan dimuliakan.

Bentuk kwangen ini kecil, indah, dan juga baunya sangat harum. Bagian bawahnya lancip dan bagian atas mekar seperti bunga. Menurut situs bali.kemenag.go.id, kwangen biasanya dibuat dari beberapa bahan berikut:

1. Kojong
Kojong kwangen terbuat dari daun pisang dan melambangkan Ardha Candra. Bagian bawahnya berbentuk lancip dan atasnya melebar dengan cekungan di bagian depannya. Bagian ini biasanya dibuat seestetika mungkin agar indah untuk dilihat.

2. Pis Bolong
Pis bolong atau uang bolong (uang kepeng) adalah uang yang biasa digunakan dalam upacara keagamaan umat Hindu Bali. Pis bolong melambangkan Windhu. Uang tersebut berfungsi untuk menebus kekurangan yang ada dari kwangen yang telah dibuat. Pada pis bolong, biasanya terdapat ukiran huruf mandarin dan Sansekerta.

3. Plawa
Plawa adalah daun, biasanya yang digunakan adalah daun pandan harum, daun kayu, atau daun kemuning. Cukup selembar daun yang digunakan. Plawa melambangkan kejernihan pikiran dan ketenangan.

4. Porosan Silih Asih
Porosan silih asih adalah 2 lembar daun sirih yang dieratkan satu sama lain. Di bagian tengahnya biasanya diisi dengan buah pinang dan kapur sirih. Porosan melambangkan Purusa, Pradana, dan kedekatan umat dengan sang Dewa.

5. Sampian
Sampian kwangen memiliki bentuk cili dan terbuat dari daun kelapa. Biasanya di sekitar sampian ini akan penuh dengan hiasan bunga-bunga harum. Cili ini melambangkan Nada. Daun kelapa melambangkan ketulusan hati dan bunga-bunga di sekitarnya melambahkan keindahan dan keharuman.

6. Bunga-bunga Harum
Bunga yang digunakan untuk membuat kwangen adalan bunga yang harum dan tidak cepat layu. Biasanya bunga pacah (pacar air), kamboja, sandat (kenanga), dan kembang kertas banyak digunakan. Bunga melambangkan rasa kasih sayang dan bhakti terhadap Dewa.

Semua bahan di atas akan dimasukkan ke dalam kojong, mulai dari porosan, plawa, sampian, bunga, dan terakhir adalah pis bolong. Bunga-bunga harum biasanya ditusuk dengan semat sebelum masuk ke dalam kojong. Untuk lebih jelasnya, berikut beberapa tahap menyusun kwangen.

1. Daun pisang dibentuk menjadi kojong.
2. Daun kelapa dibentuk menjadi sampian.
3. Sirih dibuat menjadi porosan silih asih. Salah satu lembar diolesi kapur di bagian perut dan satu lagi di bagian punggung. Setelahnya, kedua daun diikat menjadi 1.
4. Terakhir, masukkan sampian, porosan, uang kepeng, bunga harum, dan kembang rampe ke dalam kojong.
Dalam upacara sembahyang, kwangen selalu digunakan dalam sembah ketiga dan keempat. Sembah ketiga ditujukan bagi Ista Dewata dan sembah keempat ditujukan untuk memohon waranugeraha terhadap Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

Fungsi Kwangen
Dari pengertiannya sendiri, sebenarnya sudah bisa digambarkan apa fungsi dari kwangen. Menurut e-paper berjudul Kajian Bentuk, Makna, dan Fungsi Kwangen Sebagai Produk Budaya Keagamaan karya Ni Wayan Murniti, kwangen memiliki fungsi untuk mengharumkan nama Tuhan.

Dalam huruf suci, kwangen merupakan sejenis upakara dari simbol Om Kara. Ketika seseorang meninggal, yang harus ada di benaknya hanyalah sosok Ista Dewata (Tuhan). Untuk itu, yang paling penting diucapkan oleh sang calon mati adalah Om. Dengan demikian, Om Kara adalah sarana mensucikan dan memfokuskan diri menuju tujuan tertinggi, yakni Tuhan.

Menurut Brahadhara Upanisad, Om adalah Tuhan itu sendiri. Dari semua kebiasaan yang baik yang harus dilakukan umat Hindu, kebiasaan mengulang mantra Om Kara adalah kebiasaan paling mulia dan utama. Menurut Sri Jaya Kasunu, kwangen adalah simbol dari Om Kara, sehingga fungsi dari kwangen ini sejatinya mirip dengan Om Kara.

Selain itu, beberapa fungsi kwangen adalah sebagai berikut.

1. Memberikan kepuasan batin dan menimbulkan kesenangan.
2. Menyejukkan pikiran
3. Memberikan kedamaian hati
4. Memberikan kekhusyukan dan kesucian batin selama sembahyang.

Itulah dia beberapa hal seputar kwangen, mulai dari arti filosofis hingga fungsinya yang perlu kamu ketahui. Kini sudah tidak lagi bingung dengan istilah satu ini bukan?


Sumber : detik.com

0 comments: