Menjelajahi Pilbara, 'Planet Merah' yang Strukturnya Menyerupai Mars

Rabu, Desember 14, 2022 Majalah Holiday 0 Comments

Pilbara/Foto: BBC

Semenjak sekitar 3,6 miliar tahun silam, wilayah Pilbara di Australia Barat merupakan rumah bagi pelestarian kehidupan tertua di Bumi.

Dalam beberapa tahun terakhir, sains telah mengkonfirmasi apa yang selalu diketahui oleh orang-orang Aborigin Australia, bahwa Pilbara di Australia Barat adalah salah satu tempat tertua di Bumi.

Pilbara mulai terbentuk lebih dari 3,6 miliar tahun silam.

Lanskapnya yang luas berwarna merah jambu tua dengan panorama tak bertepi, membentang dari pesisir pantai barat hingga perbatasan Northern Territory, adalah wujud purba dan tempat terlarang.

Bagi mereka yang pertama kali datang ke wilayah itu, pemahaman awal akan ruang dan kesunyian di sana bakal terintimidasi: luasnya kira-kira dua kali lipat ukuran Inggris Raya, tetapi dengan populasi hanya 61.000.

Ini adalah salah satu wilayah yang paling sedikit penduduknya di Bumi.

Lapisan bumi paling kuno

Para ilmuwan telah menentukan bahwa formasi besar Pilbara dari batuan kaya besi (iron-rich rock), yang terbentuk sebelum keberadaan oksigen dan kehidupan itu sendiri, adalah contoh kerak paling kuno di dunia yang terawetkan dengan baik.

Ketika endapan besi global lainnya diperkirakan telah terbentuk pada waktu yang sama, permukaan Pilbara tetap tidak terkubur dan tidak terganggu oleh peristiwa bencana geologis.

"Hal unik tentang lanskap Pilbara bukan hanya usianya, tetapi juga kondisi pelestariannya yang luar biasa," kata Martin Van Kranendonk, profesor geologi di The University of New South Wales, yang telah bertahun-tahun memetakan dan mempelajari Pilbara, sebagaiaman dilansir dari BBC, Selasa (13/12/2022).

Corak kehidupan tertua di Bumi

Menurut Van Kranendonk, bebatuan Pilbara amat kuno sehingga tidak mengandung fosil dalam strukturnya, tetapi stromatolit, sebuah bukti dari pengawetan kehidupan tertua di Bumi, ditemukan di atasnya.

Pada 1980, fosil stromatolit berusia 3,45 miliar tahun ditemukan di dekat Marble Bar (foto di atas) di Pilbara.

Kumpulan mikroba cyanobacteria ini pertama kali ada ketika kondisi di Bumi tidak dapat mendukung bentuk kehidupan lainnya, membangun struktur seperti karang yang bulat saat mereka melepaskan oksigen melalui fotosintesis.

Yang mencengangkan, tepat di sebelah selatan Pilbara di Hamlin Pool dekat Shark Bay, kehidupan paling luas sistem stromatolit masih berkembang, bahkan mendesis, karena menghasilkan oksigen di teluk hipersalin.

Ini adalah salah satu dari hanya dua tempat di Bumi di mana stromatolit laut hidup masih ada.

Menjelajahi Planet Merah

Pada 2019, para ilmuwan NASA melakukan penyelidikan di Pilbara bersama Van Kranendonk untuk lebih mempersiapkan mereka dalam perjalanan ke Mars.

"Banyak dari mereka yang belum pernah secara pribadi melihat bukti kehidupan purba dan itulah yang mereka cari ke Mars," kata Van Kranendonk.

"Jadi, bagi mereka, itu benar-benar pengalaman yang membuka mata, untuk melihat dan memahami detil dan tekstur fosil stromatolit untuk mendapatkan pemahaman lebih baik tentang tanda apa yang harus dicari ketika mereka mencari bukti kehidupan di permukaan Mars. "

Lebih dari sekedar usianya, kesamaan kimia dari komposisi batuan Pilbara sangat relevan dengan persiapan para ilmuwan untuk misi Mars.

"Komposisi bebatuan itu dan jumlah besi di Pilbara luar biasa dan mirip Mars," kata Van Kranendonk, "itulah sebabnya ia dikenal sebagai Planet Merah."

Pilbara bisa menjadi tak kenal ampun, ekstrem dan kadang-kadang berbahaya bagi mereka yang tidak siap.

Tempat itu juga sangat indah dan membangkitkan imajinasi bagi para pengunjung dari seluruh dunia.

Meskipun area ini terlihat seperti gurun semi-kering, di dalamnya terdapat salah satu taman nasional terelok di dunia.

Ukiran pada tanah akibat erosi perlahan selama miliaran tahun, kemegahan dunia lain Taman Nasional Karijini terletak jauh di kedalaman ngarai kuno dan jurang terjal, di mana air terjun nan dramatis dan lubang air sebening kristal muncul di antara bebatuan lurik.

Bagi para pengunjung, tempat ini adalah surga kolam batu menakjubkan yang dialiri air dari sumber bawah tanah, tetumbuhan rimbun, dan kehadiran aneka satwa.

Adapun bagi para ilmuwan, ngarai di Karijini menawarkan akses tak tertandingi ke penampang batuan berlapis yang digali secara alami yang mengungkapkan banyak hal tentang Bumi pada saat tanah kuno ini terbentuk.

"Ini adalah hal yang sangat indah; ngarai itu memungkinkan Anda untuk melihat ke bawah melalui lapisan waktu," kata Van Kranendonk.


Sumber : okezone.com

0 comments: