Rambut Gimbal, Sebuah Mitos dan Identitas Budaya Dataran Tinggi Dieng

Senin, Desember 19, 2022 Majalah Holiday 0 Comments

Sebelumnya kenalin nih, nama aku Akmel Lu’lu’ Nabilah biasa dipanggil Amel. Aku berasal dari Wonosobo. Sebuah kabupaten kecil yang terkenal akan suhunya yang dingin dan keindahan wisatanya, salah satunya Dieng.
Dieng, pasti sudah ngga asing lagi jika mendengar kata tersebut. Sebuah desa yang terletak di ujung Utara Kabupaten Wonosobo, tepatnya di Kecamatan Kejajar. Desa yang terkenal akan keindahan objek wisatanya. Dibalik keindahan tersebut ternyata terdapat sebuah mitos yang sudah melekat pada masyarakat sekitar, yaitu adanya anak yang berambut gimbal.
Kepercayaan tentang rambut gimbal sudah berkembang menjadi mitos yang melekat di kalangan masyarakat dataran tinggi Dieng. Dimana masyarakat di Dieng percaya bahwa anak yang terlahir dengan rambut gimbal dikarenakan yang pertama bahwa anak yang berambut gimbal adalah anak titipan dari Kyai Kolodete, yang kedua anak berambut gimbal adalah keturunan dari orang tua yang rambutnya dulu juga pernah gimbal.
Konon katanya masyarakat Dieng mengganggap dan mempercayai bahwa Kolodete sebagai seorang Kyai yang menjadi penjaga wilayah Dieng. Kyai Kolodete juga dipercaya sebagai nenek moyang masyarakat dataran tinggi Dieng. Persepsi masyarakat Dieng tentang anak yang berambut gimbal berbeda-beda, ada yang menganggap bahwa rambut gimbal adalah sebuah berkah yang diturunkan dari Kyai Kolodete dan ada juga yang menganggapnya sebagai petaka atau suatu musibah.
Rambut gimbal biasanya terlihat sejak anak berumur 1 sampai 5 tahun. Anak yang rambut gimbalnya akan muncul ditandai dengan mengalami masa sakit-sakitan menjelang kemunculan rambut gimbalnya. Anak tersebut biasanya mengalami panas yang sangat tinggi, kejang-kejang, dan tidak kunjung sembuh meskipun sudah diobati secara medis. Gejala tersebut biasanya dibarengi dengan kemunculan rambut gimbal.
Rambut gimbal yang dimiliki tidak bisa dihilangkan begitu saja atau dipotong secara sembarangan karena rambut gimbalnya akan tumbuh kembali meskipun telah dihilangkan. Rambut gimbal tersebut harus dipotong melalui sebuah prosesi yang dinamakan ruwatan, tujuan ruwatan adalah agar rambut sang anak bisa tumbuh normal seperti pada umumnya. Proses ruwatan dilaksanakan atas dasar keinginan si anak, bukan kemauan dari orang tuanya. Selain itu, orang tua juga harus memenuhi permintaan si anak berambut gimbal yang sudah bersedia untuk diruwat. Permintaan anak yang berambut gimbal bermacam-macam dan kadang terdengar aneh. Pencukuran rambut gimbal tidak boleh dilakukan oleh sembarang orang. Pencukuran biasanya dilakukan oleh pemangku adat, tokoh masyarakat yang mengerti tata caranya, maupun orang yang secara khusus ditunjuk oleh si anak untuk memotong rambut gimbalnya. Masyarakat sekitar percaya bahwa anak berambut gimbal yang tidak melakukan upacara tradisi ruwat rambut gimbal akan mengalami gangguan jiwa ketika dewasa. Rangkaian upacara ruwatan diantaranya menyediakan sesaji upacara selametan untuk memenuhi pencukuran, dan pelarungan rambut gimbal. Pelaksanaan upacara tradisi ruwat rambut gimbal dilaksanakan secara adat dan disesuaikan dengan syariat ajaran agama Islam.


Sumber : okezone.com

0 comments: