Tradisi Tedak Siten, Upacara Adat Menapak Tanah Masih Lestari Hingga Kini

Jumat, Desember 16, 2022 Majalah Holiday 0 Comments

Tradisi tedak siten masih lestari (Foto: Erliana Riady/detikJatim)

Blitar - Tradisi Tedak Siten tetap lestari hingga kini. Beberapa pasutri millenial tetap menggelarnya. Harapannya, anak mereka tumbuh sehat dan mandiri.

Tedak Siten merupakan salah satu tradisi adat Jawa bagi balita yang telah memasuki usia 7 bulan lebih. Istilah Jawanya pitung lapan. Selapan dihitung 35 hari. Pada masa ini, balita biasanya sudah mulai belajar berdiri dan berjalan.

Pasutri dan anak yang akan menjalani tradisi ini biasanya mengenalkan busana Jawa beskap bagi pria. Dan berkebaya bagi perempuan. Dari beberapa literasi nama tradisi Tedak berarti melangkah, sedangkan Siten dari bahasa Siti yang berarti tanah. Jadi Tedak Siten memiliki makna melangkah di bumi.

Tradisi ini menggambarkan kesiapan seorang anak dalam menjalani kehidupan yang sukses di masa depan. Dengan berkah Tuhan dan bimbingan dari orang tuanya. Yang diundang biasanya anak-anak kecil tetangga terdekat atau sanak keluarga. Mereka diharapkan melihat proses pertumbuhan sang anak hingga dewasa dan sukses mengaruhi kehidupan.

"Kami orang Jawa dan tradisi ini penuh makna yang membawa kebaikan untuk keluarga dan anak kami. Jadi kami tetap melaksanakannya, sekalian nguri-nguri budaya Jawa," kata Riko Anggara, pasutri milenial yang menggelar acara ini, Jumat (16/12/2022).


Di ritual ini, sang ibu, Dinda Puspa akan memberikan bagian ceker ayam. Maknanya, agar anaknya pandai "ceker-ceker" atau mandiri dan pandai mencari nafkah. Selanjutnya, dengan dibimbing sang ayah, Zafran dinaikkan tangga dari potongan dari pohon tebu satu per satu.

Makna dari naik tangga bambu ini adalah tahapan pendidikan si anak mulai TK sampai pendidikan tinggi dan mencapai sukses.

Di puncak tangga, Zafran didudukkan dan diganti blangkonnya dengan mahkota dari anyaman janur kuning. Ini simbol puncak kesuksesan sang anak menempuh pendidikan.

Selanjutnya, menapakkan kaki di tujuh jenang beraneka warna. Jenang berbahan tepung beras ini setiap warnanya mempunyai makna. Warna hitam yakni kekuatan. Warna ungu maknanya ketenangan dalam menjalani kehidupan. Warna biru warna langit dengan harapan sang anak saat sudah mencapai sukses tidak lupa dengan daratan yang diinjaknya.

Kemudian warna hijau artinya kebersamaan semoga sang anak bisa berbaur dengan lingkungan sekitarnya. Warna merah pemberani, dan terakhir jenang berwarna putih, orang tua melangitkan doa pengharapan semoga jiwa sang anak tetap bersih selama menjalani hidup.

Prosesi berikutnya, kaki mungil Zafran ditapakkan di atas gundukan tanah kelahirannya. Lalu kakinya dicuci menggunakan air kembang. Ini mengandung makna, sang anak selalu ingat akan tanah kelahirannya. Dan selalu dilingkupi energi positif.

Selanjutnya, Zafran dimasukkan ke dalam kurungan yang telah dihiasi rangkaian janur dan bunga setaman. Makna kurungan ini adalah kehidupan di dunia ini terbatas. Doanya, semoga sang anak ingat batasan-batasan bersosialisasi sesuai ajaran agama dan norma selama menjalani kehidupannya. Di dalam kurungan itu, disebar beraneka barang yang berkaitan dengan profesi atau pekerjaan yang kelak ditekuni sang anak.


"Alhamdulillah Zafran memilih buku. Semoga nanti besarnya rajin belajar dan bermanfaat bagi sesama," ucap Dinda.

Ritual berlanjut dengan memandikan bocah. Telah disiapkan air kembang setaman yang di dalamnya juga ditaburi uang koin. Uang ini usai dipakai memandikan bayi akan disebar kepada anak-anak yang ikut menyaksikan prosesi ini. Maknanya.

Terakhir, di hadapan anak-anak Zafran dibantu memilih warna baju yang sesuai dengan karakternya. Dari beberapa warna baju, anak-anak memilihkan warna merah. Karena mereka menilai, Zafran adalah bayi sehat nan pemberani.

Acara ini diakhiri dengan menyerahkan Zafran dalam gendongan kedua orang tuanya. Sang ayah memayungi anaknya, sebagai simbol bapak mengayomi selama anak dalam masa tumbuh kembang hingga dewasa.

"Semoga Zafran selalu sehat dan kelak menjadi orang sholeh dan sukses. Serta keluarga kami sakinah mawadah warohmah...Aamiinn," tutup Riko di depan semua yang hadir.


Sumber : okezone.com

0 comments: