5 Tradisi di Klungkung yang Masih Dilestarikan dan Jadi Warisan Budaya

Selasa, Januari 24, 2023 Majalah Holiday 0 Comments


Mungkin, kita sudah tidak asing lagi dengan fakta bahwa Bali adalah salah satu dari sekian banyak pulau kecil yang memiliki berbagai tradisi unik. Tradisi-tradisi inilah yang membuat Bali dicintai oleh masyarakat, baik masyarakat Indonesia maupun turis asing.
Namun, seiring dengan perkembangan zaman, berbagai tradisi yang ada berpotensi besar hilang dari kebudayaan masyarakat. Meskipun begitu, masih ada sejumlah tradisi di Klungkung yang dilestarikan hingga menjadi warisan budaya. Apa saja tradisinya? Simak artikel berikut ini!

Tradisi Unik di Klungkung
Berikut lima tradisi di Klungkung yang masih dilestarikan:


1. Dewa Mesraman
Salah satu tradisi di Klungkung yang masih dilestarikan dan jadi warisan budaya adalah upacara dewa mesraman. Situs Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Kebudayaan menjelaskan, dewa mesraman berkaitan dengan upacara piodalan di Pura Panti Banjar Timbrah Desa Paksebali Klungkung.

Seperti dikutip dari smkn1mas.sch.id, upacara dewa mesraman adalah upacara yang menjadi ritual masyarakat Banjar Timbrah setiap enam bulan sekali. Upacara ini dibuat dengan tujuan wujud bakti kepada leluhur yang dipuja di Pura Panti Timbrah. Kata Dewa Mesraman sendiri berasal dari kata mesra yang artinya "bersenang, senang, bermesraan, bersenda gurau." Upacaranya dilakukan pada Sabtu Kliwon wuku Kuningan yang bersamaan dengan Hari Raya Kuningan.

Tradisi di Klungkung yang satu ini dibagi menjadi lima tahap dalam prosesnya, yaitu:

* Ngiyas pretima: menghias arca perwujudan Tuhan yang Maha Esa.
* Mendak pretima: membawa pretima oleh masing-masing keluarga menuju ke Pura Panti Timbrah.
* Ngelinggihang di pengaruman: menempatkan pretima bersama dengan pretima yang disimpan keluarga lain.
* Nunas paica: menyantap makanan bersama sebelum pergi mesuican.
* Mesucian: membersihkan pretima menuju mata air di tepi Sungai Unda.
* Mewali: kembali ke Pura Panti Timbrah.
* Mesolah: upacara dilaksanakan di halaman dan di depan Pura Panti Timbrah.
* Katuran piodalan: pelaksanaan puncak upacara.
* Ngaturang pemuspan: upacara bersama, diikuti seluruh anggota Panti Timbrah dan masyarakat yang masih memiliki juang-kejuang atau hubungan kekerabatan.

2. Tradisi Megibung
Tradisi di Klungkung selanjutnya yang masih dilestarikan adalah tradisi megibung. Mengutip ejournal.undiksha.ac.id, tradisi megibung adalah tradisi atau kegiatan duduk bersama untuk saling berbagi, terutama dalam hal makanan di antara masyarakat. Melalui tradisi ini, masyarakat tidak hanya dipenuhi oleh suguhan makanan, tetapi juga mengalami pertukaran pola pikir.

Tradisi megibung sendiri dilakukan dengan tujuan mengikat kebersamaan dan meningkatkan kerukunan antar warga, seperti dikutip dari situs Kementerian Agama Kabupaten Klungkung. Karena itu, tak heran bila orang-orang yang mengikuti tradisi di Klungkung ini sangat bervariasi. Perbedaan yang dimiliki setiap orang, baik dari kekayaan maupun fisik, tidak berlaku dalam tradisi ini.

3. Nyaagang
Dikutip dari situs Warisan Budaya Takbenda Indonesia, nyaagang adalah tradisi di Klungkung, seperti Desa Tojan Klungkung Bali, yang menjadi rangkaian upacara terakhir pada Hari Raya Kuningan. Tradisi di Klungkung yang satu ini selalu dilaksanakan pada siang hari, tepatnya pukul 12.00 siang dan dilaksanakan di depan pintu rumah masing-masing.

Pasalnya, nyaagang dipercaya menjadi jalan untuk mengantarkan roh para leluhur untuk kembali ke nirwana. Pelaksanaannya dilakukan secara turun temurun dan menggunakan sarana tertentu. Dalam tradisi ini, sarana yang digunakan adalah banten saagan yang terdiri dari sesajen. Isi sesajennya dapat meliputi jajanan kering, jagung, nanas, hingga daging.

Selanjutnya, unsur yang tidak boleh terlewatkan dalam banten saagan adalah batang tebu. Batang tebu ini menjadi sarana memikul bekal pada Galungan dan Kuningan yang dipercaya dapat memikul rejeki melalui batang tebu tersebut.

4. Tarian Baris Jangkang
Tradisi di Klungkung yang masih dilestarikan berikutnya adalah tarian baris jangkang. Mengutip jurnal berjudul The Power of Retro Baris Jangkang yang ditulis Paramita dan Cora, tarian baris jangkang adalah salah satu tradisi di Klungkung yang dipentaskan oleh sekelompok pria dewasa. Penggunaannya dapat ditemukan pada upacara keagamaan sekaligus untuk membayar kaul atau sesangi.

Biasanya, tarian ini ditarikan oleh delapan hingga 12 orang pria yang memakai senjata tombak panjang. Pakaiannya terdiri dari celana dan kain putih serta saput kuning. Tariannya dilakukan dengan setengah jongkok dan diiringi gamelan.

Tarian baris jangkang pada dasarnya memiliki nilai sakral dan unsur magis yang tinggi karena melambangkan tentara kuno dari daerah-daerah terpencil di Bali. Para penari akan bergerak bagaikan tentara militer yang bekerja. Karena itu, tidak heran bila tarian baris jangkang ditarikan oleh sekelompok pria dewasa.

Selain tariannya yang sakral, gamelan yang digunakan untuk mengiringinya pun juga demikian. Gamelan ini menjadi simbol dari kempur yang dulunya dipukul-pukul untuk mengeluarkan suara yang membuat musuh lari. Hal ini dikutip dari situs Kabupaten Klungkung.

5. Mejaga-jaga
Terakhir ada tradisi upacara mejaga-jaga. Upacara mejaga-jaga adalah salah satu tradisi di Klungkung yang telah ditampilkan sejak kehadiran migran dari desa Tohjiwa di Kerajaan Karangasem pada 1750 setelah perang Karangasem - Klungkung. Sarana utama yang digunakan dalam proses ritualnya adalah seekor sapi jantan yang sudah dikebiri. Ciri-ciri khususnya sendiri meliputi bulu berwarna merah, tidak berwarna-warni, bersih dari bekas luka, dan posisi tanduk yang tegak.

Itulah berbagai tradisi di Klungkung yang masih dilestarikan dan menjadi warisan budaya, mulai dari upacara dewa mesraman, tradisi megibung, nyaagang, tarian baris jangkang, hingga mejaga-jaga. Yuk, pertahankan budaya-budaya yang dimiliki agar tidak sirna eksistensinya.



Sumber : kumparan.com

0 comments: