Akibat Cinta Buta, Inilah Alasan Kenapa Disebut Gunung Tangkuban Perahu

Selasa, Januari 10, 2023 Majalah Holiday 0 Comments

https: img.okezone.com content 2023 01 09 408 2742717 akibat-cinta-buta-inilah-alasan-kenapa-disebut-gunung-tangkuban-perahu-Frzn3Id6O7.JPG
Kawah Gunung Tangkuban Perahu di Bandung, Jawa Barat (Foto: Instagram/@hfzksnrhmi24)

ALASAN kenapa disebut Gunung Tangkuban Perahu menarik diulas. Tempat wisata ini terletak 30 km sebelah utara kota Bandung ke arah Lembang.

Ini adalah satu-satunya kawah di Indonesia yang dapat Anda kendarai sampai ke tepiannya. Gunung Tangkuban Perahu memiliki bentuk yang khas, terlihat seperti 'perahu terbalik'. Di sini Anda akan disambut asap belerang yang terus dipancarkan kawah meski gunung berapi tersebut tidak aktif.

Dalam ini ada alasan kenapa disebut Gunung Tangkuban Perahu yakni pada zaman dahulu kala seekor babi tengah melintas di sebuah hutan belantara.

Babi hutan itu sedang merasa kehausan di tengah panasnya terik matahari. Pada saat dia mencari-cari mata air, dia melihat ada air yang tertampung di pohon keladi hutan.

Segera diminumnya air itu untuk melepas dahaga. Tanpa disadarinya air itu adalah air seni Raja Sungging Perbangkara. Karena kesaktian Raja Sungging Perbangkara, babi hutan itu pun mengandung setelah meminum air seninya. Sembilan bulan kemudian si babi hutan melahirkan seorang bayi perempuan.

Kawah Tangkuban Perahu

(Foto: Instagram/@ray_agungp)

Raja Sungging Perbangkara mengetahui perihal adanya bayi perempuan yang terlahir karena air seninya itu. Ia pun pergi ke hutan untuk mencarinya. Ditemukannya bayi prempuan itu. Ia pun memberinya nama Dayang Sumbi dan membawanya pulang ke istana kerajaan.

Dayang Sunbi tumbuh menjadi perempuan yang sangat cantik wajahnya. Serasa tak terbilang jumlah raja, pangeran dan bangsawan yang berkehendak memperistri anak perempuan Raja Sungging Perbangkara itu.

Namun, semua pinangan itu di tolak Dayang Sumbi dengan halus. Sama sekali tidak diduga oleh Dayang Sumbi, mereka yang ditolak pinangannya itu saling berperang sendiri untuk memperebutkan dirinya.

Dayang Sumbi sangat bersedih mengetahui kenyataan bahwa para pangeran, raja dan bangsawan yang ditolaknya saling melakukan peperangan. Ia pun memohon kepada Raja Sungging Perbangkara untuk mengasingkan diri. Sang Raja akhirnya mengizinkan anaknya tersebut untuk mengasingkan diri.

Dayang Sumbi mengasingkan diri di sebuah bukit ditemani oleh seekor anjing jantan bernama si tumang. Untuk mengisi waktu luangnya selama dalam pengasingan, Dayang Sumbi pun menenun.

Alkisah, ketika Dayang Sumbi sedang menenun, peralatan tenunnya terjatuh. Ketika itu Dayang Sumbi merasa malas untuk mengambilnya. Terlontarlah ucapan yang tidak terlalu disadarinya.

”Siapapun juga yang bersedia mengambilkan peralatan tenunku yang terjatuh, seandainya itu lelaki akan kujadikan suami, jika dia perempuan dia akan kujadikan saudara,” gumamnya.

Tak disangka si tumang mengambil peralatan tenun yang terjatuh itu dan memberikannya kepada Dayang Sumbi.

Tidak ada yang dapat diperbuat Dayang Sumbi selain memenuhi ucapannya. Ia pun menikah dengan si tumang yang ternyata titisan dewa. Si Tumang adalah dewa yang dikutuk menjadi hewan dan dibuang ke bumi. Beberapa bulan setelah menikah, Dayang Sumbi pun mengandung dan melahirkan seorang bayi laki-laki. Dayang Sumbi memberinya nama Sangkuriang.

Waktu terus berlalu. Beberapa tahun kemudian terlewati. Sangkuriang telah tumbuh menjadi seorang pemuda yang tampan wajahnya. Gagah. Tubuhnya kuat dan kekar. Sakti mandraguna pula anak Dayang Sumbi ini.

Pada suatu hari Sangkuriang dengan di temani si tumang kembali melakukan perburuan di hutan. Sangkuriang berniat mencari kijang karena ibunya sangat menghendaki memakan hati kijang. Setelah beberapa saat berada di dalam hutan, Sangkuriang melihat seekor kijang yang tengah merumput di balik semak belukar.

Sangkuriang memerintahkan si tumang untuk mengejar kijang itu Sangat aneh, si Tumang yang biasanya penurut, ketika itu tidak menuruti perintahnya. Sangkuriang menjadi marah. ”Jika engkau tetap tidak menuruti perintahku, niscaya aku akan mebunuhmu,” katanya lantang.

Kawah Tangkuban Perahu

(Foto: Instagram/@_.iid._)

Ancaman Sangkuriang seakan tidak dipedulikan si tumang. Karena jengkel dan marah, Sangkuriang lantas membunuh si tumang. Hati anjing hitam itu diambilnya dan dibawanya pulang ke rumah. Sangkuriang memberikan hati si tumang kepada ibunya untuk dimasak.

Tanpa disadari Dayang Sumbi bahwa hati yang diberikan anaknya adalah hati suaminya. Ia kemudian memasak dan memakan hati itu. Maka, tak terperikan amarah Dayang Sumbi kepada Sangkuriang ketika dia tahu hati yang dimakannya adalah hati si Tumang.

Ia lalu meraih gayung yang terbuat dari tempurung kelapa dan memukul kepala Sangkuriang, hingga kepala Sangkuriang terluka

Sangkuriang sangat marah dan sakit hati dengan perlakuan ibunya itu. Menurutnya, Ibunya lebih menyayangi si Tumang ketimbang dirinya. Maka, tanpa pamit kepada Dayang Sumbi ibunya, Sangkuriang lantas pergi mengembara ke arah timur.

Dayang Sumbi sangat menyesal setelah mengetahui kepergian Sangkuriang anaknya. Ia pun bertapa dan memohon ampun kepada para dewa atas kesalahan yang diperbuatnya. Para dewa mendengar permintaan Dayang Sumbi, mereka menerima permintaan maaf itu dan mengaruniakan Dayang Sumbi kecantikan abadi.

Syahdan, Sangkuriang terus mengembara tanpa tujuan yang pasti. Dalam pengembaraanya Sangkuriang terus menambah kesaktiannya dengan berguru kepada orang-orang sakti yang ditemuinya selama pengembaraan. Bertahun-tahun Sangkuriang mengembara tanpa disadari dia kembali ke tempat di mana dia dahulu dilahirkan.

Sangkuriang terpesona dengan kecantikan Dayang Sumbi yang abadi, dia tidak menyadari bahwa perempuan cantik yang ditemuinya di hutan itu tak lain ialah ibu kandungnya sendiri.

Hal yang sama terjadi juga pada Dayang Sumbi yang tidak menyadari pemuda gagah yang sakti itu adalah Sangkuriang anaknya. Karena saling jatuh cinta mereka merencanakan untuk menikah.

Sebelum pernikahan dilangsungkan Sangkuriang berniat untuk berburu. Dayang Sumbi membantu Sangkuriang mengenakan penutup kepala.

Ketika itulah dayang Sumbi melihat luka di kepala calon suaminya. Teringatlah dia pada anak lelakinya yang telah meninggalkannya. Dia sangat yakin pemuda gagah itu tidak lain adalah Sangkuriang anaknya.

Dayang Sumbi kemudian menjelaskan bahwa ia sesungguhnya adalah ibu kandung dari Sangkuriang. Oleh karena itu dia tidak bersedia menikah dengan anak kandungnya tersebut.

Namun, Sangkuriang yang telah dibutakan oleh hawa nafsu tidak mempedulikan penjelasan Dayang Sumbi, dia tetap bersikukuh akan menikahi Dayang Sumbi. Alhasil, Dayang Sumbi memberi syarat berat kepada Sangkuriang jika memang ngotot ingin menikahinya. Salah satunya ialah Sangkuriang harus membuatkan perahu berukuran besar dan danau.Di mana pekerjaan tersebut harus rampung dalam waktu satu malam. Misi yang sangat mustahil untuk dilakukan oleh orang awam. Singkat cerita, saat Sangkuriang nyaris menyelesaikan pekerjaannya, Dayang Sumbi tak kehabisan akal. Ia pun menggelar kain-kain hasil tenunannya di ufuk timur seraya berdoa agar usaha Sangkuriang gagal total.

Doanya pun dikabulkan, kain-kain tenunannya tersebut secara ajaib memancarkan cahaya kemerahan di ufuk timur, seakan fajar telah menyingsing. Ayam-ayam jantan pun mulai berkokok penanda waktu pagi tiba.

Sangkuriang yang panik dan sadar usahanya akan gagal kemudian menendang perahu besar yang telah dibuatnya hingga terlempar jauh dan jatuh tertelungkup. Menjelmalah perahu besar itu menjadi sebuah gunung yang kini dinamakan Gunung Tangkuban Perahu.

Sumber : okezone

0 comments: