Anak Berambut Gimbal dan Tradisi Ruwatan di Dataran Tinggi Dieng

Jumat, Januari 06, 2023 Majalah Holiday 0 Comments

Prosesi pemotongan rambut gimbal (Sumber foto: Dok. Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Wonosobo)
Dataran Dieng adalah salah satu pusat pertanian hortikutura di Provinsi Jawa Tengah. Mata pencaharian utama masyarakat bertumpu pada sektor pertanian. Selain pertanian kini pariwisata juga menjadi sumber mata pencaharian warga masyarakat. Sektor pariwisata dieng mampu menarik minat wisatawan. Penataan Dieng sebagai tujuan wisata gencar dilakukan oleh pemerintah.
Selain sektor pariwisata yang terkenal dieng juga kaya akan tradisi budaya sebagai identitasnya. Dimana masyarakat Dieng atau masih megenggam erat tradisi dan budaya Jawa. Salah satunya adalah Tradisi Ruwatan Rambut Gimbal.
Asal Usul Anak Berambut gimbal
Fenomena anak-anak rambut gimbal dapat ditemui di kawasan Dataran Tinggi Dieng yang merupakan salah satu dataran tinggi di Indonesia yang terletak antara Kabupaten Banjarnegara dan Kabupaten Wonosobo. Anak tersebut adalah anak yang diberi anugerah dengan rambut gimbal. Biasanya dapat terlihat sejak lahir atau baru muncul di kisaran usia 1 sampai 6 tahun. Anak pemilik rambut gimbal random dan bukan turunan .Rambut gimbal ini tumbuh secara alami dan berbeda dengan rambut pada umumnya. Pada anak-anak yang rambut gimbalnya muncul setelah lahir anak-anak tersebut akan mengalami sakit sakitan selama beberapa hari dan dibarengi dengan kemunculannya.
Anak berambut gimbal dipercayai sebagai anak pilihan dan titisan dari ki Kolodete, ki Kolodete adalah sosok pendiri Kota Wonosobo dan Konon, anak berambut gimbal merupakan simbol kesejahteraan bagi masyarakat Dieng. Masyarakat percaya jika jumlah anak yang mempunyai rambut gimbal mempunyai hubungan dengan kesejahteraan masyarakat di Dataran Tinggi Dieng. Selain itu banyak mitos yang beredar yakni semakin banyak jumlah anak berambut gimbal, maka kesejahteraan masyarakat Dieng akan semakin baik, begitu pula sebaliknya.
Masyarakat warga dieng mempercayai bahwa anak yang memiliki rambut gimbal adalah seorang anak titisan dari leluhur yang menjaga wilayah Dieng mitos ini dipercayai masyarakat Dieng hingga saat ini. Karena jumlahnya sedikit dan hanya dimiliki anak anak tertentu anak berambut gimbal juga dianggap sebagai minoritas disana. Meski dianggap sebagai minoritas anak-anak tersebut juga sering diperlakukan istimewa dan “ anak sakti”.
Tradisi Ruwatan
Pemotongan rambut gimbal tidak boleh dilakukan sembarangan. Di Dieng terdapat salah satu tradisi pemotongan rambut tersebut dengan upacara adat yang biasanya akan dilakukan oleh masyarakat setempat tradisi ini biasa disebut “Ruwatan Rambut Gimbal”. Setelah dilakukan pemotongan rambut biasanya rambut anak-anak tersebut akan tumbuh sebagaimana rambut anak pada umumnya. Proses pemotongannya pun tidak boleh dilakukan oleh sembarang orang. Pemotongan rambut biasanya dilakukan oleh pemangku adat, tokoh masyarakat yang mengerti tata caranya, maupun orang yang secara khusus ditunjuk oleh si anak untuk memotong rambut gimbalnya.
Beberapa masyarakat sekitar percaya bahwa anak berambut gimbal yang tidak melakukan upacara tradisi ruwatan tersebut maka anak yang memiliki rambut gimbal akan mengalami gangguan jiwa ketika dewasa. Sebelum prosesi pemotongan rambut gimbal biasanya anak anak tersebut memiliki permintaan yang harus dituruti dan apabila permintaanya tersebut tidak dituruti sesuai kemauannya maka nantinya rambut gimbal tersebut akan tumbuh kembali.
Tradisi ruwatan rambut gimbal sudah dilakukan turun temurun oleh masyarakat kepada anak-anak yang memiliki rambut gimbal. Tradisi sendiri berasal dari bahasa latin Traditio “diteruskan”, atau dapat diartikan sebagai sesuatu yang telah dilakukan sejak lama dan menjadi bagian dari kehidupan suatu kelompok masyarakat yang diteruskan dari generasi ke generasi baik secara tertulis maupun lisan (Koentjaraningrat, 2004).
Tradisi ruwatan rambut gimbal adalah Rangkaian kegiatan yang dilakukan sebelum pemotongan rambut gimbal. Pada mulanya, Tetua adat melakukan ziarah ke tempat-tempat yang dianggap suci untuk meminta izin kepada leluhur, dan memohon ridho kepada tuhan agar prosesi ruwatan dapat berjalan dengan penuh keberkahan. Ruwatan adalah salah satu kebudayaan masyarakat Jawa. Kebudayaan adalah keseluruhan sistem gagasan, tindakan dan hasil karya manusia dalam kehidupan bermasyarakat yang dijadikan panduan belajar oleh diri manusia. Hal ini sejalan dengan ruwatan yang merupakan kebudayaan yang lahir atas suatu gagasan, tindakan dan hasil karya manusia melalui proses bertahap atau pembelajaran (Koentjaraningrat 1990).
Prosesi ruwatan telah di sesuaikan dengan ajaran agama islam dimana isi doa yang panjatkan pemangku adat pada prosesi ruwatan berisi permohonan kepada Allah SWT untuk mengampuni dosa, menjauhkan diri dari kemungkaran, memberikan rahmat serta hidayahNya, dan kelancaran rejeki. Tujuan utama dari prosesi ruwatan ini yaitu memohon perlindungan dari segala marabahaya dan mendapatkan keselamatan serta kesejahteraan.(Oktavia et al., 2016).
Biasanya prosesi ruwatan ini diadakan setiap tahun dan bertepatan dengan salah satu acara tahunan di Dieng yang dikenal dengan nama Dieng Culture Festival yang sekaligus menarik wisatawan untuk berkunjung ke Dieng.

Sumber : cnnindonesia.com

0 comments: