Brad Binder Ungkap Penyebab Utama MotoGP Sulit Gelar Balapan di Afrika Selatan

Jumat, Januari 13, 2023 Majalah Holiday 0 Comments

Pembalap Tim Red Bull KTM, Brad Binder. (Foto: MotoGP)

ANDORRA – Pembalap asal Afrika Selatan, Brad Binder mengaku sangat ingin negaranya kembali menggelar ajang balap MotoGP. Namun, ia pun sadar biaya yang amat mahal untuk menggelar balapan, terutama di Afrika Selatan, membuat sulit melihat MotoGP kembali mentas di negara tersebut,

Dalam beberapa tahun terakhir, MotoGP terus mengembangkan pasar dengan menggelar beberapa balapan di luar Benua Biru. Kompetisi balap motor paling bergengsi di dunia itu sudah kembali ke Argentina, Thailand dan Indonesia.

Bahkan, pada musim 2023, dua seri di luar Eropa bertambah dengan datangnya balapan di India dan Kazakhstan. Kemunculan Binder bersaudara, Brad dan Darryn yang berasal dari Afrika Selatan, di ajang Grand Prix jelas memunculkan harapan bahwa Dorna akan tertarik untuk membawa kembali balapan MotoGP ke Afrika Selatan.

Apalagi Afrika Selatan punya dua sirkuit, yakni Kyalami dan Welkom, yang sudah berpengalaman menggelar balapan Grand Prix selama beberapa musim. Setelah direnovasi pada 2014 lalu, Brad yakin Kyalami punya infrastruktur yang lebih baik dibanding sirkuit yang menjadi tuan rumah MotoGP saat ini.

Akan tetapi, Binder sadar bahwa membawa MotoGP kembali ke negaranya sangat sulit diwujudkan, Sebab biaya penyelenggaraannya yang sangat tinggi.

“Biaya penyelenggara di luar Eropa gila-gilaan. Tapi saya akan senang jika Grand Prix MotoGP Afrika Selatan kembali ke kalender di masa mendatang,” kata Brad dilansir dari Motosan, Jumat (13/1/2023).

“Kami memiliki trek yang luar biasa di Kyalami, infrastrukturnya baik, termasuk fasilitas pit dan yang lainnya. Mereka lebih baik daripada sebagian besar trek kejuaraan MotoGP saat ini yang kami ikuti,” imbuhnya.

Harapan pembalap berusia 27 tahun itu pun semakin mengecil karena Pemerintah Afrika Selatan saat ini tengah mengalami krisis ekonomi, bahkan untuk menyediakan listrik bagi masyarakat mereka saja masih kekurangan. Karena itu, untuk menginvestasikan dana besar di sebuah ajang balap, pastinya akan sangat sulit untuk dilakukan.

“Pemerintah kami bahkan tidak punya cukup uang saat ini untuk menyediakan listrik bagi masyarakat. Selama kita memiliki orang-orang yang kelaparan di negara ini, orang seharusnya tidak mengharapkan jumlah yang begitu besar untuk diinvestasikan dalam sebuah Grand Prix,” jelas pembalap kelahiran Porchefstroom, Afrika Selatan itu.

Sebagai informasi, Dibangun pada 1961, Kyalami pernah menggelar balapan Grand Prix antara tahun 1983-1985 dan 1992. Bahkan, ajang World Super Bike dan Formula1 juga pernah dilaksanakan di sana.

Namun, sejak 2014 lalu, Kyalami sedang direnovasi untuk membuatnya lebih modern. Meski sudah selesai pada 2019 lalu dan sudah menggelar beberapa balapan, pandemic Covid-19 membuat turnamen-turnamen di sana terhenti dan belum menghelat kompetisi lagi sampai saat ini.


Sumber : okezone.com

0 comments: