Cerita Duka Mahasiswa UNY, Berjuang Bayar UKT sampai Akhir Hayat

Sabtu, Januari 14, 2023 Jarmani. S.Pd, M.Pd 0 Comments



Kisah mahasiswi Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) yang berjuang membayar kuliah sampai akhir hayatnya, viral di twitter. Cerita mengharukan ini diunggah oleh akun @rgantas, pada Rabu (11/01) lalu.

Akun milik Rachmad Ganta Semendawai (24) tersebut menceritakan teman sekaligus adik tingkatnya yang susah payah membayar Uang Kuliah Tunggal (UKT) karena berasal dari keluarga tidak mampu.

"Dia mahasiswa angkatan 2020, terkendala masalah UKT, tidak bisa membayar UKT," kata Ganta kepada detikJateng, dikutip Jumat (13/1/2023).

Berasal dari Keluarga Kurang Mampu
Dalam utasnya, Ganta menceritakan bahwa temannya yang berinisial R berasal dari keluarga kurang mampu di Purbalingga.

Orang tua R sehari-hari berjualan sayur mayur dengan gerobak di pinggir jalan. Di saat yang sama, orang tuanya juga harus menghidup R dan empat orang adiknya yang belum lulus sekolah.

"Jelas keuangan keluarga tak akan cukup membiayai perkuliahannya," tulis Ganta.

UKT yang Tidak Sesuai dengan Kondisi Ekonomi
Dengan kondisi ekonomi yang kurang, R harus membayar UKT dengan angka Rp 3,14 juta. Padahal sejak awal masuk kuliah, R telah mengurus administrasi dan mengisi pendapatan orang tua sesuai kondisi ekonominya.

Namun, saat mengunggah berkas, dia tidak memiliki laptop sehingga meminjam ponsel tetangganya di desa.

"Karena android tetangganya tidak secanggih HP yang sedang Anda pakai. Akhirnya ia tidak bisa mengupload berkas-berkas yang diminta. Ia mengira inilah alasan mengapa nominal UKT-nya melonjak. Entah ada pengaruh atau tidak. Namun, secara ajaib nominal UKT-nya muncul dengan angka Rp 3,14 juta," jelas Ganta.

Dengan UKT sebesar Rp 3,14 juta, R awalnya ingin mengubur mimpinya untuk bisa kuliah. Namun, ia beruntung karena guru-guru di sekolahnya mau membantu pembayaran UKT pertamanya.

"Harapan pun hadir. Ia resmi menjadi mahasiswa UNY," terangnya.

Perjuangan Tiada Henti untuk Membayar UKT
Ganta mengatakan, selama menjadi mahasiswa, temannya adalah orang yang ceria. Namun, keceriaan itu selalu luntur saat pembayaran UKT mendekati masa tenggat.

Ancaman putus kuliah pun selalu ada di bayang-bayang R. Namun, ia selalu bangun setiap kali terjatuh karena sulit membayar UKT.

"Tidak kurang usaha yang ia lakukan agar bisa melanjutkan studi. Segala cara dia coba, dari mencari beasiswa hingga mengambil part time. Menurut saya, praktis semua usaha sudah ia coba. Namun hasilnya lebih sulit dari yang diduga," ungkapnya.

Sejak awal kuliah, R sudah berjuang untuk mengajukan keberatan terhadap nominal UKT ke Rektorat UNY. Namun, ia merasa dipermainkan karena birokrasi.

Padahal selama mengurus itu, R selalu berjalan kaki ke kampus dengan jarak yang lumayan jauh. R selalu berjalan kaki ke mana-mana untuk menghemat uang.

Perjuangan R dalam menurunkan nominal UKT pada akhirnya berhasil. Namun, Ganta mengatakan hal itu juga menjadi ironi lantaran UKT R hanya turun sekitar Rp 600 ribu.

"Ini masih belum cukup. Ia hampir menyerah. Namun, di detik-detik terakhir bantuan pun datang. Ia menyebut ini sebagai 'keajaiban'. Teman-teman, DPA, dan Kajur membantu patungan. Saya juga ikut membantu, walau tidak banyak," jelasnya.


"Tapi, tentu saja tidak benar-benar aman. Mengingat, ia tidak hanya kuliah untuk semester itu. Tapi akan ada semester yang akan datang. Singkat kata, 'masih belum usai'," imbuh Ganta.

Berjuang sampai Akhir Hayat
Benar saja, pada semester selanjutnya yang ditakutkan pun terjadi. Ganta menuturkan bahwa R tidak bisa membayar UKT lagi.

Kemudian Ganta mendengar kabar bahwa R mengajukan cuti dan mencari kerja untuk membayar UKT semester berikutnya.

Ketika hendak mencari tahu kebenaran kabar tersebut, Ganta justru mendengar kabar bahwa R telah meninggal dunia pada 9 Maret 2022.

"Selama ini dia mengidap hipertensi yang amat buruk. Ancaman putus kuliah kian memperburuk keadaannya. Setelah beberapa waktu tidak kuliah, tiba-tiba muncul kabar ia sedang kritis di RS. Pembuluh darah di otaknya pecah," paparnya.

"Bagian yang paling menyakitkan adalah mengetahui bahwa kisah ini benar-benar terjadi. Makam R tak hanya mengubur jasadnya, tapi juga mengubur mimpinya untuk menjadi sarjana."

Respon Rektor UNY
Menanggapi kisah duka yang menimpa mahasiswinya, Rektor UNY Sumaryanto mengaku sedih.

Menurutnya, baik UNY maupun dia pribadi bertekad untuk membantu para mahasiswa yang kesulitan finansial.

"Saya sedih, sangat berduka kalau sampai penyebabnya mahasiswa sampai tidak bisa bayar, sampai depresi, saya betul-betul sedih. Jadi betul-betul kalau ada mahasiswa kesulitan uang, kalau bukan UNY yang membantu Sumaryanto, komitmennya seperti itu secara pribadi," ucap Sumaryanto kepada detikJateng.

Menurutnya pengajuan penurunan UKT bisa dilakukan saat awal salah menginput UKT sehingga dinilai terlalu tinggi.

Pihak UNY juga menyediakan dispensasi UKT ketika terjadi bencana alam, kecelakaan atau orang tua meninggal sehingga menjadi yatim piatu atau terkena PHK.

"Sebagian besar yang ngoreksi minta turun karena salah menginput data. (Caranya) Mengajukan surat ke rektor, ternyata kami pendapatannya hanya sekian. Bahkan ada karena kena gempa, kena PHK, kami akan mengusulkan dikurangi UKT satu grid, yang penting tidak boleh bohong. Kalau apa adanya pasti kami bantu, jaminannya itu," tuturnya.

Sumber : detik.com

0 comments: