Cerita Guru Besar UIN Malang Kuliah di Arab: Banyak Beasiswa-Dosen Ringan Tangan

Kamis, Januari 12, 2023 Jarmani. S.Pd, M.Pd 0 Comments



Prof Dr Muhammad Abdul Hamid dikukuhkan sebagai Guru Besar bidang Ilmu Bahasa Arab Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim (UIN Maliki) Malang pada bulan Juli 2022 silam. Karyanya dalam dunia akademik tak lepas dari semangatnya mengejar pendidikan sampai ke Negeri Arab.

Prof Abdul menempuh pendidikan magisternya di King Saud University, Arab dengan beasiswa pada tahun 2005. Tuturnya, mayoritas mahasiswa di Arab Saudi merupakan penerima beasiswa.

"Di Saudi itu, hampir seluruh mahasiswa asing dan bahkan lokalnya adalah penerima beasiswa," jelasnya kepada detikEdu, Selasa (10/1/2023).

Beasiswa yang ia dapat berasal dari kerja sama UIN Maliki Malang. Saat itu, kampus yang diampunya mendatangkan dosen-dosen dari Arab untuk memberikan pelatihan.

"Waktu itu bagi yang tiga terbaik itu diberangkatkan ke sana," ujar alumni S2 Pembelajaran Bahasa Arab bagi Non Arab itu.

Beasiswa yang ia dapat pun mencakup biaya kuliah, asrama, uang saku sebanyak 860 riyal atau Rp 3,5 juta per bulan, asuransi kesehatan, tiket pesawat pulang-pergi sebanyak 4 kali dalam setahun, hingga uang konsumsi.

"Kalau uang makan juga dapat subsidi. Jadi kita makan itu tiga kali sehari hanya 1 riyal setengah. Itu 7 macam: nasi, sayur, buah, salad, pokoknya kita makan 7 macam. Itu sangat luar biasa," tuturnya.


Proses Seleksi dan Syarat Beasiswa di Arab Saudi
Prof. Abdul menerangkan, ada tiga syarat utama untuk mendapat beasiswa di Arab, yakni:

1. Rekomendasi
Surat rekomendasi ini berasal dari pemerintah.

2. Sehat
Sehat baik jasmani maupun rohani juga penting. Guru Besar Bahasa Arab itu menjelaskan, bahwa sesampai di Arab, kesehatan penerima beasiswa juga akan diperiksa ulang.

"Yang dari sini lolos berangkat sampai sana wajib diperiksa ulang. Kalau ada [yang sakit] langsung dikembalikan," tegasnya.

3. Kemampuan Berbahasa
Terdapat persyaratan bahasa untuk jenjang tertentu serta program peningkatan kemampuan bahasa. Namun menurut Prof Abdul, kemampuan bahasa tidak menjadi persyaratan khusus.

"Pada saat masuk kemudian tes, itu hanya test placement. Pada saat kemampuan berbahasanya sudah bagus, dia akan masuk ke level atas. Dan kalau masih kurang bagus, di bawah," jelasnya.

Kemudian terkait seleksi, pada saat Prof Abdul mendaftar hanya melalui persyaratan berkas. Namun, persyaratan akan berbeda di setiap universitas

"Di Universitas Islamadinah itu ada wawancara," katanya.

Dosen di Arab Ringan Tangan Bantu Mahasiswa
Cerita Prof Abdul, hubungan antara mahasiswa dengan dosen sangat cair. Dosen bahkan tidak ragu dalam membantu mahasiswa atau ringan tangan.

Ia pun bercerita, ia pernah memberi masukan kepada dosennya untuk menuliskan sebuah buku. Tak disangka, dosen bernama Prof Khalid itu malah memberinya kontrak untuk menulis buku tersebut.

"Waktu itu (saya) menyarankan menulis buku dan beliau tertarik. Saya bilang 'Prof, kenapa nggak menulis buku tentang ini,' dan dia bilang 'Saya pikirkan dulu,' tapi dua tiga hari (setelahnya) saya ditelepon, kemudian dia merespons dan (memberikan) tanda tangan kontrak kerja," kenangnya.

Saat hendak menulis buku pun, Prof Abdul bercerita kepada dosennya bahwa ia meninggalkan laptopnya di Indonesia. Tak butuh waktu lama, dosen itu pun membelikan laptop agar Prof Abdul langsung bisa mengerjakan buku tersebut.

Prof Abdul melihat tidak hanya dirinya, tetapi beberapa mahasiswa juga memiliki pengalaman serupa dengan para dosen. Kerja sama antar dosen dan mahasiswa itu juga diatur oleh Unit Kemahasiswaan Asing.

"Bagi yang mau, kemudian diberikan kesempatan untuk berkembang," tegasnya.

Pesan untuk Mahasiswa yang Ingin Kuliah di Arab Saudi
"Bahasa guyon kita itu, nggak akan sengsara kalau kuliah di Saudi," candanya.

Atase Pendidikan dan Kebudayaan (Atdikubd) Indonesia di Arab Saudi hingga Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) juga senantiasa memberikan dukungan kepada mahasiswa asal Indonesia.

Selain beasiswa yang meliputi banyak komponen, mahasiswa juga memiliki kesempatan untuk mengikuti umroh dan haji.

"Tetap, tujuan awalnya adalah untuk mencari ilmu," pungkasnya.

Sumber : detik.com

0 comments: