Heboh Charles & Keith Disebut Label Mewah, Ini Faktor yang Membuat Sebuah Brand Bisa Dianggap Luxury

Selasa, Januari 24, 2023 Jarmani. S.Pd, M.Pd 0 Comments



Luxury brand itu apa, sih? Jika diukur berdasarkan pendapat masing-masing, kita akan kesulitan mendefinisikan apa itu luxury brand. Sebab, setiap dari kita jelas punya pandangan yang berbeda satu sama lain. Apa yang kita anggap mewah, belum tentu mewah bagi orang lain.

Menurut kesepakatan umum, terdapat beberapa faktor yang bisa digunakan untuk mengenali mana merek yang termasuk luxury brand dan mana yang bukan. Faktor utamanya adalah seberapa eksklusif barang dari brand tersebut. Lantas, bagaimana suatu barang bisa dikatakan eksklusif?Harga Mahal
Barang yang harganya mahal tampak eksklusif karena tidak semua orang bisa membelinya. Di sisi lain, patokan mahal tidak melulu dilihat dari harga yang tinggi, namun harga yang tinggi jika dibandingkan dengan merek lain di sektornya. Misal, sabun dari brand Molton Brown dan L'Occitane dianggap mewah, namun mungkin harganya lebih murah dari sepatu Christian Louboutin atau jam tangan Cartier.

Kualitas tinggi
Seperti kata banyak orang, ada harga ada rupa. Brand mewah menyediakan produk yang kualitasnya sepadan dengan harganya yang mahal. Mereka memilih bahan yang bermutu tinggi dan tahan lama. Pengerjaannya pun otentik dan penuh ketelitian dari para profesional di bidangnya sehingga menciptakan barang yang eksklusif. Dengan demikian customer akan merasa istimewa ketika mengenakan barang tersebut.

Persediaan Terbatas
Di samping itu, brand mewah biasanya tidak berusaha melayani massa dan tidak ingin produknya tersedia dengan mudah. Kelangkaan menjadi kunci dalam hal pemasaran barang, dan inilah yang menjadikannya eksklusif.

Masih ada lagi faktor lain yang biasanya digunakan untuk mendefinisikan luxury brand. Di antaranya adalah estetika desain, personalisasi, endorsment dari selebriti, packaging, hingga performa yang unggul.

Dengan faktor-faktor tersebut, luxury brand memiliki tingkat eksklusivitas yang bervariasi. Banyak pakar berusaha menjelaskan tingkatan tersebut lewat piramida luxury brand. 
Piramida Brand Mewah
Luxury brand hadir di berbagai sektor, beberapa yang paling menonjol adalah ritel, perhotelan, dan otomotif. Grup ritel mewah biasanya memproduksi sejumlah luxury brand dengan berbagai segmen di bawah payung besar mereka. Di dalamnya termasuk segmen fashion, kecantikan, aksesori, dan minuman. Kebanyakan segmen mewah di ritel terkonsolidasi di bawah beberapa konglomerat.

Misalnya, LVMH adalah konglomerat spesialis barang-barang mewah dengan brand terpopuler seperti Louis Vuitton, Fendi, Christian Dior, Givenchy, dan Marc Jacobs. Misal lagi, grup Richemont yang menaungi merek seperti Cartier, Van Cleef & Arples, dan Mont Blanc.
Di bidang fashion, terdapat beberapa level segmentasi pasar mewah. Level tersebut digambarkan seperti hierarki piramida yang memisahkan merek fashion berdasarkan harga, kualitas, dan kreativitas.

Segmentasi yang ada di piramida fashion dari puncak ke dasar yaitu:

Haute Couture, karya eksklusif yang dibuat sesuai ukuran dengan menggunakan keahlian tingkat tinggi dan perhatian terhadap detail. Misalnya, Chanel.

Ready-to-Wear (RTW), tersedia dalam ukuran yang lebih terstandardisasi namun tetap memiliki kreativitas tinggi perancangnya. Merek siap pakai ada untuk menjangkau audiens yang lebih luas.
Misalnya, Gucci.

Diffusion, terinspirasi dari merek siap pakai tetapi menarik audiens yang lebih luas dengan membawa konsep muda yang lebih kasual dan mematok harga yang lebih rendah dari Ready-to-Wear. Misalnya, DKNY.

Bridge, menjembatani kesenjangan antara high end dan mass market. Misalnya, merek premium seperti Coach dan Diesel.
Mass Market, menjangkau masyarakat sebanyak-banyaknya dengan menyediakan busana trendi harga eceran. Misalnya, Zara, H&M, Uniqlo, dll.


Di sisi lain, Erwin Rambourg dalam bukunya yang berjudul The Bling Dynasti: Why the Reign of Chinese Shoppers Has Only Just Begun, membuat piramida brand mewah berdasarkan harga. Piramida tersebut memiliki tujuh tingkatan dari dasar ke puncak yakni:

Everyday luxury, harga di bawah 100 USD atau sekitar Rp1.5 juta. Lini fashion yang masuk kategori ini termasuk Charles and Keith.
Affordable luxury, harga sekitar 100 - 300 USD atau di bawah Rp4.5 juta. Misalnya, kacamata desainer, Coach, perhiasan Tiffany & Co.
Accessible core, harga sekitar 300 -  1.500 USD atau di antara Rp4.5 juta - Rp23 juta. Misalnya, Gucci, Prada, Louis Vuitton, Christian Louboutin.
Premium core, harga 1.500 - 5.000 USD atau Rp23 juta - Rp76 juta. Misalnya, Bulgari, Tag Heuer, Rolex, Chopard.
Superpremium, harga 5.000 - 50.000 USD atau Rp76 juta - Rp758 juta.
Ultra high end, harga di atas 50.000 USD atau Rp758 juta. Misalnya, Bottega Veneta, Van Cleef & Arpels.
Bespoke, tidak ternilai harganya karena dibuat sesuai pesanan atau dibuat secara custom dan personalized.
Posisi setiap brand di piramida tersebut bisa saja berubah-ubah seiring waktu. Mungkin saja Charles and Keith dianggap bukan brand mewah saat ini, tetapi beberapa tahun ke depan menjadi penanda kemewahan seseorang.

Mungkin saja Gucci dianggap mewah hari ini, tetapi berkurang citra kemewahannya di masa depan. Itu semua bisa terjadi karena faktor-faktor penentu kemewahan seperti yang telah disebutkan sebelumnya yakni meliputi harga, kualitas, dan juga kelangkaan.

Sumber : detik.com

0 comments: