Ini Sosok Pemilik Warteg Kharisma Bahari, Cuma Lulusan SD

Rabu, Januari 11, 2023 Majalah Holiday 0 Comments

https: img.okezone.com content 2023 01 09 455 2742783 ini-sosok-pemilik-warteg-kharisma-bahari-cuma-lulusan-sd-XH0IW4IJoh.jpgPemilik Warteg Kharisma Bahari. (Foto: Okezone.com)

JAKARTA - Pemilik Warteg Kharisma Bahari, warung makan Tegal yang kian menjamur di Indonesia. Warteg ini pun menjadi tempat makan karena beragam menu dan harganya terjangkau.

Saat ini, Warteg Kharisma Bahari diketahui memiliki tiga model waralaba, yakni Warteg Kharisma Bahari yang menyasar kalangan menengah, Warteg Mamoka Bahari berukuran medium, dan Warteg Subsidi Bahari.

Selain itu, berada di bawah naungan Kharisma Bahari Group, warteg Bahari kini telah berjumlah 800 lebih outlet yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia.

Lantas, siapakah pemiliknya?

Dilansir oleh Okezone dari berbagai sumber, Warung Tegal (Warteg) Kharisma Bahari didirikan oleh Sayudi pada tahun 1996, seorang pedagang asongan tamatan SD kelahiran tahun 1973. Berbeda dengan warteg pada umumnya, Warteg Bahari memiliki nuansa warna hijau dan krem dengan nama Kharisma Bahari yang menonjol dan tulisannya besar.

Sebelum merintis Warteg Kharisma Bahari, Sayudi adalah seorang pedagang asongan, di Terminal Pulogadung, Jakarta Timur, selama 7 - 8 tahun dengan penghasilan sekitar Rp300 ribu. Sebelumnya, ketika masih lajang, dia sempat membuka usaha warteg namun bangkrut.

Lalu, Setelah menikah, pria kelahiran tahun 1973 ini kemudian beralih pekerjaan dari jualan rokok ke membuka warteg kembali di Jakarta Selatan dengan nama Modal Mertua (MM). Dengan uang pinjaman dari mertua sebesar Rp6 juta, dia berkongsi dengan temannya mengelola warteg dengan sistem aplusan, tiga bulan dikelola dirinya kemudian tiga bulan berikutnya dikelola temannya. Selama kurun waktu tidak mengelola warteg, Sayudi kembali berjualan asongan.

Pada 1996, dia mengambil alih warteg milik temannya yang nyaris bangkrut. Setelah sempat mau digusur, warteg tersebut tetap bertahan selama 10 tahun berkat reformasi. Ketika itu, banyak warga DKI Jakarta yang makan sehari-hari di warteg.

Adapun, Warteg kedua diberi nama Warteg Akrobu yang artinya akrab berlokasi di Pasar Inpres Cipete Selatan dan warteg ketiga di lokasi warteg yang kongsian dengan temannya namun tutup. Di lokasi inilah, dia memberi nama wartegnya Kharisma Bahari.

Akhirnya, sebuah solusi pun muncul. Sayudi mengajak teman atau keluarga yang ingin mendirikan bisnis warteg namun tidak memiliki modal, dengan sistem bagi hasil 50:50.

Saat ini, dari total 800 lebih warteg Kharisma Bahari, Sayudi hanya memiliki 10 warung saja dan sisanya adalah sistem waralaba.

Sumber : okezone

0 comments: