Kisah Darwinah Jadi TKW hingga Sukses Jadi Pembina UMKM di Indramayu

Sabtu, Januari 14, 2023 Majalah Holiday 0 Comments


Indramayu - Di balik kesuksesan gemilang Darwinah (41) sebagai pelaku UMKM, mantan PMI asal Indramayu, Jawa Barat itu ternyata punya pengalaman tragis saat bekerja di luar negeri. Ia menjadi korban trafficking dari disekap hingga depresi dan nyaris bunuh diri.

Kisahnya bermula dari tahun 2001 silam. Darwinah yang ingin membatu ekonomi orang tua memilih bekerja sebagai asisten rumah tangga di luar negeri. Berdasarkan pengetahuan-nya, Darwinah pun berangkat ke Singapura melalui jalur resmi atau legal.

Dewi fortuna seolah tidak berpihak. Alih-alih ingin mendapat penghasilan, perempuan asal Desa Kenanga, Kecamatan Sindang, Kabupaten Indramayu itu justru mendapat perlakuan tidak mengenakan dari sang majikan.


"Selama 5 bulan itu saya jadi korban trafficking. Kerja di porsir, tidak digaji bahkan sempat seharian tidak dikasih makan, sampai dibenturin ke tembok juga pernah," kata mantan TKW asal Indramayu, Darwinah belum lama ini.

Selama lima bulan kerja sebagai asisten rumah tangga, Darwinah seperti orang disekap oleh majikan. Kondisi itu membuatnya semakin depresi hingga sempat mencoba bunuh diri dengan meminum sejenis deterjen.

"Pernah mencoba bunuh diri. Bahkan sempat dikabarkan meninggal. Kaya disekap nggak pernah kirim uang atau kirim kabar ke orang tua," jelasnya.

Darwinah pun dirawat ke rumah sakit setempat. Dan akhirnya ia dipulangkan oleh pemerintah.

Kisah tragis yang dialaminya tidak menjadikan Darwinah kapok. Di tahun 2004, perempuan kelahiran tahun 1981 itu kembali berangkat ke luar negeri. Namun, mencoba ke HongKong.

Kala itu, Darwinah membuat pola yang berbeda. Sebab, keberangkatan nya bermula dari relasi kerja di Indonesia sehingga ia mendapat majikan yang dinilai baik. Sehingga, ia bisa menghabiskan waktu bekerja selama 4 tahun di Hongkong.

"Dari kerja di Cengkareng, akhirnya kerja di Hongkong pun mendapat majikan yang baik sampai bisa berorganisasi di sana yaitu Ikatan keluarga Indramayu Cirebon," kata Darwinah di sela kesibukannya sebagai pembina umkm.

Potret kegagalan nya masa itu menjadi modal. Meski sebagai art, namun Darwinah mencoba berorganisasi hingga memberikan diskusi atau kajian kepada PMI lainya di Hongkong.

"Kalau ada libur, saya isi waktu dengan ngajar ngaji atau kajian disana," jelasnya.

Gaji sebagai asisten rumah tangga waktu itu hanya sekitar 4 juta rupiah. Namun, Darwinah yang ingin mendapat hasil selama bekerja ia rela mengesampingkan kebiasaan konsumtif.

"Tipsnya harus bisa memanajemen upah atau gaji ya. Biar pas pulang bisa untuk modal usaha. Tapi kan masih ada aja yang untuk foya-foya," kata Winah sapaan akrab mantan PMI itu.

Dari pengalaman nya, Darwinah punya mimpi untuk mengurangi jumlah PMI dari Indramayu. Sehingga, pada tahun 2008 sepulang dari Hongkong, Winah membangun rumah edukasi PMI dari hasil uang kerjanya sebagai art.

Ia pun mengubah mainset masyarakat agar bisa menciptakan lapangan pekerjaan sendiri. Hal itu agar, faktor ekonomi tidak lagi menjadi alasan masyarakat untuk bekerja di luar negeri.

"Sedangkan faktor di lapangan itu kan ekonomi. Sehingga ketika mereka punya penghasilan, istri mana, perempuan mana yang mau meninggalkan keluarga bertahun-tahun," jelasnya.

Seiring menjadi tekad nya sebagai pegiat sosial. Darwinah pun memiliki usaha makanan olahan yang kini semakin sukses. Mulai dari kripik usus, jus mangga, hingga jambal roti siap saji.

"Omset per tahun bisa mencapai 500 juta hingga satu miliar rupiah. Reseller nya banyak di Jakarta hingga ke luar negeri," ujarnya kepada detikJabar.

Bahkan, Darwinah pun membantu pemasaran produk dari anggota binaan nya. Diantaranya mengekspor makanan olahan kerupuk kulit sapi.

"Saya ingin mengubah mainset. Karena sebenarnya hidup di Indonesia juga bisa sejahtera. Yang penting ada kemauan," pungkas Darwinah.

Sumber : detik.com

0 comments: