Letak Cincin Tunangan di Jari Menurut Budaya Barat

Sabtu, Januari 14, 2023 Majalah Holiday 0 Comments


Selain berfungsi sebagai perhiasan, cincin juga digunakan seseorang sebagai tanda bahwa dirinya telah terikat hubungan asmara dengan orang lain. Ada dua cincin yang biasa dipakai, yaitu cincin kawin dan cincin tunangan.
Umumnya, kedua cincin tersebut terbuat dari emas atau platinum. Modelnya variatif sehingga bisa disesuaikan dengan selera masing-masing pasangan.
Dalam budaya Barat, pasangan suami istri bertukar cincin setelah upacara pernikahan dilaksanakan. Mengutip laman Abelini, cincin kawin dikenakan di jari manis tangan kiri karena letaknya dekat dengan jantung.
Lalu, bagaimana dengan cincin tunangan? Letak cincin tunangan di jari mana? Berikut penjelasannya.

Cincin Tunangan di Jari Mana?

Cincin tunangan dianggap sebagai simbol janji, pengabdian, dan cinta abadi. Dengan menggunakan cincin ini, pasangan akan langgeng dan harmonis sampai hari pernikahan tiba.
Di banyak negara Barat, cincin tunangan dikenakan di jari keempat atau jari manis tangan kiri. Menurut laman Forever Mark, tradisi tersebut dapat ditelusuri kembali pada ke zaman Romawi Kuno.
Menurut kepercayaan bangsa tersebut, jari manis memiliki pembuluh darah yang mengalir langsung ke jantung, yakni vena amoris, yang berarti pembuluh cinta. Letak jari manis tersebut menunjukkan simbol cinta abadi dan hati yang telah bertaut dengan orang lain.
Sesaat sebelum upacara pernikahan, cincin tunangan akan dipindahkan ke tangan kanan dan digantikan dengan cincin kawin. Setelah itu, cincin tunangan dipindahkan lagi ke tangan kiri di atas cincin kawin.
Mengenakan cincin tunangan di tangan kiri sejatinya bukanlah tradisi global. Di Rusia, Jerman, Norwegia, dan India, cincin tunangan dipakai di tangan kanan. Pasalnya, “kiri” dalam bahasa latin mengandung arti “jahat”. Itu sebabnya tangan kiri dianggap sial oleh sebagian orang.
Di sisi lain, Islam tidak mengenal budaya tukar cincin yang menandai pertunangan antara dua insan. Mengutip buku Kado Pernikahan oleh Syaikh Mahmud Mahdi al-Istanbuli, Syekh Al-Albani dalam kitab Adab Az-Zifaf menjelaskan, tradisi itu merupakan warisan dari orang-orang Barat, terutama umat Nasrani.
Memakai cincin tunangan adalah tradisi orang-orang terdahulu ketika melangsungkan pernikahan. Cincin itu pertama-tama dipasang di ibu jari sambil mengucapkan, ‘Atas nama Bapa…’ Kemudian dipindahkan ke jari telunjuk sambil mengucapkan, ‘...dan Putera…’, lalu dipindahkan lagi ke jari tengah sambil mengucapkan, ‘...dan Roh kudus…’ Akhirnya dipindahkan ke jari manis sebagai tempat dari kata, ‘Amin’ yang terakhir.
Atas dasar itu, sebagian ulama tidak menganjurkan pasangan Muslim mengenakan cincin tunangan. Apalagi jika tujuannya untuk mengikat hubungan pasangan. Perbuatan ini tergolong syirik karena memercayakan benda sebagai jimat untuk melanggengkan hubungan.
Namun, ada pula ulama yang meyakini bahwa budaya merupakan hal yang berbeda dengan agama sehingga umat Muslim diperbolehkan untuk melakukannya. Selama tradisi tersebut tidak melanggar syariat agama.

Sumber : kumparan.com

0 comments: