Mengenal Siwaluh Jabu, Rumah Adat Karo yang Megah

Rabu, Januari 25, 2023 Majalah Holiday 0 Comments

Siwaluh Jabu (Dok. Disparbud Karo)

Medan - Setiap suku pastinya mendiami satu wilayah dengan bangunan khusus. Di masyarakat Karo, detikers akan menjumpai bangunan yang disebut Siwaluh Jabu.
Siwaluh Jabu yang didiami masyarakat Karo memiliki kekhususan yang menarik diulik setiap sudutnya. Bahkan banyak yang mengatakan bahwa Siwaluh Jabu rumah adat Karo yang megah.

Apakah yang menjadikan Siwaluh Jabu unik? Berikut detikSumut hadirkan seputar fakta Siwaluh Jabu yang bermanfaat bagi detikers. Simak penjelasannya!


Apa itu Siwaluh Jabu?
Secara harfiah, penamaan Siwaluh Jabu berasal dari bahasa Karo. Waluh bermakna delapan dan jabu berarti rumah. Maka dapat diartikan Siwaluh Jabu adalah rumah yang mempunyai delapan ruangan.

Siwaluh Jabu dibangun dengan material kayu, bambu, dan ijuk. Pada bagian tiang, kerangka, lantai, dan dinding, Siwaluh Jabu menggunakan material kayu. Untuk kerangka atap dan teras dibangun dengan bahan bambu. Dan bagian atap Siwaluh Jabu terbuat dari ijuk yang tahan dari terik dan hujan.

Bentuk Siwaluh Jabu juga mengambil desain rumah panggung. Selain itu, hal yang menarik dari Siwaluh Jabu adalah pembuatannya yang tidak menggunakan paku satu pun.

Struktur Siwaluh Jabu
Seperti rumah pada umumnya, Siwaluh Jabu juga terdiri dari beberapa bagian. Namun bagian yang ada di Siwaluh Jabu memiliki filosofi yang erat dengan kebudayaan masyarakat Karo.

Siwaluh Jabu mempunyai empat bagian. Bagian pertama yang terdapat di Siwaluh Jabu adalah kolong. Bagian kolong pada Siwaluh Jabu dulunya dipergunakan untuk memelihara berbagai hewan ternak. Namun saat ini, lantaran perkembangan zaman, kandang yang ada di kolong pada Siwaluh Jabu sudah terpisah dan berjarak dengan alasan kesehatan.

Inti rumah merupakan bagian kedua dari Siwaluh Jabu. Di bagian ini digunakan untuk berbagai kegiatan masyarakat Karo. Terdapat delapan ruang dalam bagian inti rumah yang posisinya saling berhadapan di kedua sisi Siwaluh Jabu.

Ruangan-ruangan ini dipisahkan dengan sekat dan ditutup kain. Terdapat satu dapur di bagian depan setiap dua ruangan. Ruangan tersebut bisa digunakan secara kolektif dua keluarga.

Bagi detikers yang nantinya merencanakan berkunjung ke Karo dan ingin melihat Siwaluh Jabu, harus diingat bahwa sebelum masuk terdapat pintu kecil yang dibuat untuk menghormati pemilik rumah. Pintu kecil itu berguna agar setiap tamu yang masuk akan menunduk.

Bagian ketiga dari Siwaluh Jabu merupakan bagian atas. Pada bagian ini, berguna untuk menyimpan cadangan kayu bakar yang dipakai untuk memasak. Dan bagian terakhir adalah bagian luar atau ture (teras) yang terletak di depan maupun di belakang.

Bagian ture biasanya digunakan para perempuan Karo untuk menikmati waktu senggang dengan menganyam tikar.

Tahapan Membangun Siwaluh Jabu
Detikers pasti pernah mendengar pembuatan rumah pada umumnya lama rampung. Namun proses yang lama dalam membuat rumah pada umumnya didasarkan atas proses pembangunan semata. Terkhusus pembangunan Siwaluh Jabu diperlukan waktu yang lama lantaran banyaknya tahapan dan ritual yang harus ditunaikan.

Dalam pembuatan Siwaluh Jabu terdapat beberapa tahapan yang wajib dijalankan. Tahapan pertama ada padi-padiken tapak rumah. Tahapan ini adalah tahap saat pihak keluarga mencari letak dan arah rumah yang akan dibangun. Dalam pencarian letak dan arah tersebut, masyarakat Karo akan meminta bantuan guru si baso.

Ngempak adalah langkah selanjutnya setelah padi-padiken tapak rumah. Pada tahapan ini detikers, masyarakat Karo akan memilih pohon di hutan untuk ditebang. Selain itu, dalam penebangan pohon yang dipilih juga harus diperhatikan tanggal penebangannya. Tahapan ini tetap memerlukan bantuan guru si baso.

Ketiga adalah ngerintak kayu. Sebuah tahapan yang meminta pertolongan kepada warga desa untuk membawa pohon-pohon yang ditebang. Dalam ritualnya, para pihak keluarga yang membutuhkan bantuan akan membagikan sirih dan juga diadakan makan besar.

Kemudian ada pebelit-belitken. Tahapan yang berfokus untuk mengumpulkan para pekerja dan penentuan waktu yang digunakan dalam membangun rumah. Dalam tahapan ini nantinya juga dibahas besaran upah yang harus dibayarkan.

Tahapan kelima ada mahat. Sebuah tahapan memahat dan memotong pohon-pohon yang telah tersedia. Selanjutnya ngampen tekang, sebuah tahapan pemasangan balok atau pondasi.

Dan dua tahapan terakhir adalah ngampekan ayo dan pemasangan tanduk kerbau. Ngampekan ayo merupakan tahapan dalam pemasangan anyaman bambu di bagian atap Siwaluh Jabu. Sedangkan pemasangan tanduk kerbau adalah tahapan yang berguna sebagai penolak bala. Dalam pemasangan tanduk kerbau wajib dilakukan malam hari.

Nah itulah seluk beluk terkait Siwaluh Jabu rumah adat Karo yang megah.


Sumber : detik.com

0 comments: