Seni Rupa Kontemporer yang Membosankan

Senin, Januari 23, 2023 Majalah Holiday 0 Comments

Pengunjung melihat karya seni yang ditampilkan dalam pameran seni rupa Art Moments Jakarta (AMJ) edisi kelima tahun 2022 di Sheraton Grand Jakarta Gandaria City, Jakarta, Jumat (4/11/2022). Foto: Aprilio Akbar/ANTARA FOTO

Setelah modernisme, dalam berbagai hal yang patut menerima dugaan dan olok-olok mungkin adalah seni rupa kontemporer, seni yang dimulai dengan usaha untuk mengomunikasikan suatu hal yang spesifik dan berakhir dengan visual yang membosankan, serta begitu jauh bergeser pada landasan teoritis atau filosofis di baliknya.
Hal yang membosankan ini seakan menjadi ciri khas dari seni rupa kontemporer. Artis menjadi semacam Sisyphus, yang dalam tindakan berulang harus menggelindingkan batu besar ke atas gunung, menghadapi cakrawala ketersilauan berada dalam kondisi kontemplasi dan kebingungan. Seni rupa kontemporer adalah dunia yang kacau, dengan segala eksentrisitas dan abstraksinya.
Saya hari ini tinggal di Kota Surabaya, dan saya belum pernah menemukan pameran yang menurut saya menarik secara visual-visual yang sering luput dari mata setiap pengunjung atau pengamat di antara beberapa jenis makna dari ide yang melatarbelakanginya.
Secara kekaryaan, sebagian besar karya seni rupa kontemporer dibuat dengan tingkat keterampilan yang sangat rendah dan tingkat pemikiran yang sangat tinggi, sampai mati. Dengan demikian, karya seni menawarkan kepada kita berbagai macam absurditas, dari galeri populer hingga ruang alternatif.

Seni Rupa Kontemporer

Saya teringat ketika saya berkunjung pada pameran tunggal artist Dwi Januartanto "Absurdity, Mimicry, and New Sincerity" di AKSERA (Akademi Seni Rupa Surabaya) pada tahun 2022 yang lalu. Secara sinis saya berani mengatakan bahwa pameran tersebut tidak masuk akal.
Sebagian besar karya Dwi Januartanto begitu inovatif dan eksperimental, dengan melibatkan noda kotoran kelelawar pada bentangan karung, instalasi semen yang retak, dan sejumlah sketsa kasar serta lanskap kosong yang suram. Mungkin saya masih bisa mencerna karya-karya Dwi Januartanto yang tampaknya adalah seniman terampil, yang mungkin begitu terpikat dengan apa yang ia lihat di benaknya: sebagai yang sederhana, sebagai ketersituasian, sebagai subjek, dan lainnya.
Melalui karya noda kotoran kelelawar, Dwi Januartanto seperti ingin menunjukkan bahwa ada potensi peninggian budaya secara objek, melalui proses yang berbeda dengan transformasi artistiknya. Tetapi yang membuat saya cukup heran, bagaimana mungkin karya-karya Dwi Januartanto disandingan dengan tulisan pengantar kuratorial yang rumit dan begitu filosofis dari kurator Hari Prajitno?
Ditambah kondisi ruang pamer yang sama sekali tidak mendukung kehadiran karya-karya Dwi Januartanto, seperti pencahayaan yang tidak memadai, dinding dan atap yang penuh noda, dan semua orang bebas merokok di dalam ruang pamer.
Dari pameran Dwi Januartanto saya mendapatkan pemahaman bahwa karya seni yang hebat tidak sekadar datang dari teori, dan kontemporer sebagai istilah yang megah, patut diperlakukan apa adanya, tetapi bukan alah-kadarnya, terutama ketika karya tersebut dihadirkan dan dibuka untuk publik.
Setelah berkunjung ke pameran "Absurdity, Mimicry, and New Sincerity" orang mungkin akan mengatakan bahwa seni rupa hari ini memang berbeda dari sebelumnya, karena tidak lagi berusaha untuk menjadi indah.
Jika artis, galeri atau museum, dan pengulas tidak dapat menghargai kepedulian dan ketidakpedulian publik, pastilah mereka adalah yang tidak cukup canggih dan kehilangan esensi kehidupan. Tanggapan seperti ini menjadi semacam respons atas hilangnya koherensi yang dikombinasikan dengan kesombongan tertentu, yang terkait dengan persona seni, bahwa orang pada umumnya akan berpikir: "seni" sekarang siap untuk diperebutkan dan jika tidak ada standar, maka tidak ada rasa hormat.

Apakah Seni Berhenti Berusaha Menjadi Indah?

Pengunjung melihat karya seni instalasi yang ditampilkan dalam pameran bertajuk The Soul Trembles di Museum Modern and Contemporary Art in Nusantara (MACAN), Jakarta, Sabtu (7/1). Foto: Iqbal Firdaus/kumparan
Tentu tidak. Seni kontemporer, dengan media baru dan narasi barunya, bisa memukau. Misalnya, saya kembali ambil contoh berdasarkan pengalaman di Kota Surabaya, Komunitas Kecoak Timur pada pameran "Djinn Diplomacy" di tahun 2022.
Pameran kedua yang dipamerkan di Surabaya setelah di Jepang, menghadirkan beberapa karya kontemporer yang bisa dianggap indah. Para seniman menyusun dan membungkus bongkahan batu dan kurung bambu dengan kain putih, menciptakan simbol dan gambar yang lekat dengan ingatan masyarakat tertentu.
Meskipun kurang provokatif jika dibandingkan dengan "Absurdity, Mimicry, and New Sincerity", tetapi pameran "Djinn Diplomacy" tetap mengekspresikan keindahan dengan komposisinya yang rapat, dan pencahayaan yang apik. Selain itu, "Djinn Diplomacy" adalah pameran yang mempertahankan sebuah narasi ambisius tentang sejarah mistisisme manusia, dipenuhi dengan kehalusan puitis dan citra yang romantik.
Namun, dari yang indah, apakah sudah cukup untuk membuat seni memproduksi makna?
Hari ini penggambaran yang akurat sebagai tujuan seni telah didiferensiasikan secara efektif. Kita tentu masih memiliki seni tentang yang indah, tentang yang ideal, tentang yang ilahi, tetapi sebagian besar karya seni rupa kontemporer, meskipun mereka benar-benar mengekspresikan sesuatu di hati kehidupan manusia, hal itu belum melakukan upaya yang tulus untuk menyampaikan kepada publik apa yang menjadi poin penting.
Memang sulit untuk membantah bahwa seni rupa kontemporer akan memiliki kedekatan lebih intens dengan pengagumnya. Namun, dari sudut yang sinis, seni rupa kontemporer dengan sengaja dihadirkan dengan tidak ramah, penuh keterkejutan, eksklusif dengan kecanggihannya yang kosong, terlebih seni rupa kontemporer hanya untuk orang-orang yang sok dan eksklusif untuk mengelompok di sekitarnya ke dalam lingkaran sosial yang cenderung dipilihnya sendiri.
Melalui penilaian intuitif, dapat dipastikan bahwa saya mungkin belum tentu benar. Karena bagaimanapun dalam sejarah, seni selalu dianggap lebih maju dari awal kelahirannya, dengan mengasingkan, melampaui, lalu mendobrak. Orang-orang membenci karya Vincent van Gogh ketika ia pertama kali memulai, tetapi sekarang semua orang mengaguminya.
Mulanya, masyarakat di sekitar abad ke-19 bertanya apa maksud dari garis-garis dalam karya Vincent tersebut? Dengan cara yang sama kita sekarang bertanya, apa maksud dari artificial intellingence robotic? Seni rupa kontemporer, memang pada tataran teoritis tidak mungkin menjadi yang melampaui, tetapi dari praktik budaya, persyaratan untuk melampaui masih berlaku.
Hal yang sama tentang avant-garde. Avan-garde tidak sekalipun memberikan masa depan. Jika kita menggali dan mencerna tulisan-tulisan avan-garde, program dan manifesto mereka memberi tahu kita semua hal yang tidak berbeda: kita memiliki museum, penuh dengan sesuatu yang kuno, dan di luar museum serta di sekitar kita, kita memiliki tank, kereta api, pesawat terbang. Lalu, ledakan dan pembunuhan, mesin industri, matematika dan geometri.

Sumber : kumparan.com

0 comments: