Serba-serbi Imlek 2023: Sejarah, Pengertian, dan Tradisi Perayaan di Indonesia

Kamis, Januari 12, 2023 Majalah Holiday 0 Comments

Ilustrasi Imlek 2023. Foto: Dok. iStock

Solo - Imlek atau tahun baru Cina merupakan salah satu hari besar yang dirayakan oleh masyarakat Tionghoa. Imlek ditentukan dalam penanggalan Cina yang berdasarkan peredaran bulan. Kapan Imlek 2023 diperingati dalam kalender Masehi? Berikut tanggal dan hari cuti bersama Imlek 2023.
Imlek 2023 jatuh pada hari Minggu tanggal 22 Januari 2023. Imlek atau tahun baru Cina merupakan salah satu hari besar yang dirayakan oleh orang Tionghoa. Berikut serba-serbi Imlek 2023, dari pengertiannya, sejarah, hingga tradisi perayaannya di Indonesia.

Pengertian Imlek
Dalam SKB 3 Menteri tentang Hari Libur Nasional dan Cuti Bersama Tahun 2023, Imlek 2023 disebut dengan Tahun Baru Imlek 2574 Kongzili. Kenapa disebut Kongzili?



Menurut Js Liem Liliany Lontoh, SE, M Ag dalam artikelnya di situs FKUB DKI Jakarta, sebutan Kongzili itu karena kalender Imlek / Yinli mengacu pada tahun kelahiran Nabi Kongzi yaitu 551 SM. Dengan demikian, tahun 2023 Masehi apabila ditambahkan dengan 551 menjadi 2574 Kongzili.

Js Liem menjelaskan kalender Imlek diciptakan oleh Huang Di (2698 - 2598 SM), salah satu Nabi yang dimuliakan dalam agama Khonghucu dan dinobatkan sebagai bapak moyang orang Tionghoa.

Dalam situs fkub.org, Liem menuliskan bahwa setiap penanggalan yang ada pada awalnya diciptakan untuk membuat pedoman penentuan jatuhnya musim, menghitung kapan terjadinya bulan baru, dan penentuan saat-saat ibadah.

Demikian pula penanggalan imlek, selain untuk pedoman bercocok tanam juga untuk pedoman bersembahyang dan bersyukur kepada Tuhan yang disebut Tian atau Shang Di. Kalender Huang Di ini menghitung awal tahun barunya pada awal musim semi.

Sejarah Imlek
Liem menerangkan, kalender Huang Di efektif digunakan pada era dinasti Xia (2205 - 1766 SM). Ketika Xia runtuh dan diganti dinasti Shang (1766 - 1122 SM), awal tahun barunya dimajukan sebulan.

Demikian pula ketika dinasti Shang runtuh dan diganti dinasti Zhou (1122 - 255 SM), awal tahun barunya dimajukan lagi, jatuh pada 22 Desember (atau 21 Desember pada tahun Kabisat), tepat di saat Matahari di atas 23,5° Lintang Selatan. Saat itu merupakan puncak musim dingin di wilayah di utara garis khatulistiwa.

Adapun Confucius, Kongzi, atau nabi Khongcu hidup pada masa Zhou (551-479 SM). Saat ditanya salah satu muridnya tentang pemerintahan yang baik, salah satu jawaban Confucius ialah perlunya menggunakan kembali kalender dinasti Xia. Sebab kalender itu paling tepat sebagai pedoman bercocok tanam, mengingat mayoritas rakyat saat itu hidup dari bertani.

Singkat cerita, kalender Xia digunakan kembali pada masa dinasti Han (202 SM - 221 M), tepatnya pada tahun 104 SM, pada era kepemimpinan Kaisar Han Wu Di (140 - 87 sM). Kalender Xia itu formatnya seperti kalender Imlek yang dikenal sekarang.

Sebagai bentuk penghormatan Kaisar Han Wu terhadap Kongzi atau Confucius, maka tahun pertamanya ditetapkan terhitung sejak tahun kelahiran Confucius, yaitu 551 SM. Itulah sebabnya tahun Imlek (sekarang 2574 Kongzili) berselisih 551 tahun dengan tahun Masehi.

Tradisi Perayaan Imlek di Indonesia
Menurut M Ikhsan Tanggok dalam jurnal 'Perayaan Tahun Baru Imlek dalam Masyarakat Tionghoa di Indonesia' (Ushuluna Vol 1 No 1, 2015), tahun baru Imlek mempunyai banyak cerita dan simbol-simbol yang digunakan dalam upacaranya.

Malam datangnya tahun baru Imlek biasa disambut dengan riang gembira. Bagi orang Tionghoa yang memelihara abu leluhur, mereka biasanya bersembahyang di depan altar keluarga usai bersembahyang kepada Tuhan atau Thian.

Umumnya sembahyang ini dilakukan pada pertengahan malam, yaitu pada saat pergantian tahun. Sembahyang ini dilaksanakan di tempat-tempat ibadah, di alam terbuka, dan di depan meja abu leluhur (jika keluarga itu memelihara abu leluhur).

Jika keluarga itu tidak memelihara abu leluhur, biasanya mereka mengunjungi rumah keluarga mereka yang tertua yang memelihara abu leluhur dan mereka sembahyang di sana.

Selain bersembahyang, setidaknya ada tiga hal yang khas dengan perayaan Imlek, yaitu penempelan kertas warna merah, angpau, hingga membakar petasan. Dirangkum dari jurnal M Ikhsan Tanggok, berikut penjelasannya.

1. Kertas Warna Merah
Tiap menjelang tahun baru Imlek, orang-orang Tionghoa biasa menempelkan kertas berwarna merah di depan pintu rumahnya. Menyadur cerita yang ditulis Goh Pei Ki, jurnal itu menyebutkan pada zaman dulu bumi dipenuhi oleh ular berbisa dan binatang buas.

Di antara binatang-binatang buas itu ada makhluk yang cukup besar. Nian sebutannya. Nian itu muncul setahun sekali, tepatnya pada malam tahun baru, untuk memangsa manusia. Suatu ketika, Niam urung memangsa seorang tua gegara dia mengenakan pakaian dalam berwarna merah.

Dari kisah itulah muncul tradisi menempel kerta merah saat menjelang tahun baru Imlek, tujuannya untuk menghindarkan keluarga dari malapetaka atau marabahaya. Selain itu, warna merah juga punya makna tersendiri bagi orang Tionghoa Indonesia, yaitu sebagai simbol kebahagiaan.

2. Angpau
Ada pula tradisi memberikan angpau pada saat tahun baru Imlek. 'ang-Pao' diambol dari lafal Hokkian, yang suku bangsanya banyak di Pulau Jawa. Angpau ialah hadiah berupa uang yang dibungkus dalam amplop merah.

Angpau diberikan kepada anak-anak yang melakukan kunjungan atau hormat kepada orang tua atau anggota keluarga mereka.

3. Membakar Petasan
Petasan untuk menyambut Imlek pun biasanya juga berwarna merah. Menurut Nio Joe Lan yang dikutip M Ikhsan Tanggok dalam jurnalnya, kertas merah bekas petasan pada malam tahun baru itu juga dapat membantu mendoakan kebagiaan untuk keluarga masing-masing.


Sumber : detik.com

0 comments: