Top! Anak Buruh Tani Sragen Tembus Daftar 20 Inovator Muda Terbaik Dunia

Senin, Januari 09, 2023 Jarmani. S.Pd, M.Pd 0 Comments



Fajar Sidik Abdullah Kelana atau sering dipanggil Fajar Kelana dinobatkan sebagai 20 insinyur dan inovator muda terbaik tingkat dunia di ajang penghargaan James Dyson Award.

Penghargaan yang diberikan di awal tahun 2023 tersebut merupakan wujud apresiasi, inspirasi sekaligus dorongan untuk para insinyur dan inovator muda di seluruh dunia dalam menciptakan inovasi teknologi yang bermanfaat untuk memecahkan berbagai masalah riil di tengah masyarakat dunia.

Fajar Kelana merupakan salah satu alumnus terbaik Departemen Teknik Mesin, Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada dan KTH Royal Institute of Technology Swedia. "Tidak pernah menyangka bakal dipilih dan dianugerahi sebagai 20 insinyur dan inovator muda terbaik dunia di James Dyson Award. Bangga tentulah," ungkap Fajar dalam keterangan tertulis UGM yang dikutip Sabtu (7/1/2023).

James Dyson Award adalah penghargaan untuk insinyur dan inovator dunia. James Dyson Award diprakarsai oleh James Dyson. Ia adalah salah satu insinyur dan inovator yang sangat terkenal dari Inggris yang berhasil menciptakan berbagai inovasi dan teknologi yang mengantarkannya menjadi salah satu insinyur dan inovator paling sukses di Britania Raya bahkan dunia.

Dalam ajang ini, Fajar mengembangkan inovasi teknologi perikanan bernama Banoo yang merupakan alat microbubble generator untuk budidaya ikan yang bisa menghasilkan gelembung udara berukuran 40 mikron di dalam air dan mampu meningkatkan oksigen terlarut di dalam air hingga 10 ppm.

"Peningkatan oksigen terlarut hingga 10 ppm dengan menggunakan teknologi Banoo sudah terbukti secara ilmiah mampu meningkatkan pertumbuhan ikan dan peningkatan hasil panen pembudidaya ikan di Indonesia 78 persen lebih banyak dari alat aerasi kolam yang ada di pasaran. Jadi, pendapatan, taraf hidup dan kesejahteraan pembudidaya ikan di Indonesia juga bisa naik," ujar Fajar, Jumat (6/1).

Fajar menjelaskan teknologi Banoo juga terintegrasi dengan IoT water quality sensor sehingga alat Banoo beroperasi secara otomatis tergantung dengan kualitas air yang ada di kolam atau tambak.

Teknologi ini bekerja dengan sistem otomasi yang berdasarkan pada data kualitas air secara real-time, dan ketika oksigen terlarut di dalam air rendah terbaca oleh IoT water quality sensor maka sensor akan menyalakan alat untuk memproduksi gelembung oksigen berukuran mikron.

"Sebaliknya, ketika oksigen di dalam air sudah cukup tinggi, sensor akan memberikan sinyal ke alat untuk berhenti beroperasi. Fitur dan sistem ini bertujuan untuk menghemat konsumsi energi listrik," terangnya.

Dia menerangkan teknologi Banoo saat ini juga sedang dikembangkan lebih lanjut untuk terkoneksi dengan smartphone melalui aplikasi sehingga pembudidaya ikan dan petambak di seluruh dunia, terutama di Indonesia dapat mengetahui kondisi kualitas air di kolam di lokasi mana pun.

Selain itu, di tengah isu potensi krisis energi dan permasalahan lingkungan di seluruh dunia, teknologi Banoo ke depannya juga akan dikembangkan untuk menggunakan energi listrik dari panel surya sebagai sumber energi terbarukan dan ramah lingkungan.

Lahir dari Keluarga Buruh Tani
Fajar merupakan anak keluarga buruh tani di Sragen, Jawa Tengah yang lahir pada 1994. Dikutip dari akun instagramnya, ia yatim sejak bayi. Ibunya banting tulang bekerja serabutan untuk membesarkan dua anak. "Sejak kecil saya dan keluarga hidup pas-pasan dengan segala keterbatasan," tulisnya.


Saat usia Fajar belum genap 5 tahun, mereka sekeluarga merantau ke Jakarta. Fajar mengaku kenyang diremehkan dalam perjalanan hidupnya. Termasuk salah satu guru SMA yang mengatakan dirinya tidak akan sukses karena nilai jelek di salah satu mata pelajaran.

Lulus SMA ia membuktikan berhasil diterima di salah satu kampus terbaik di Indonesia. Fajar mengaku sempat ingin menyerah dan putus kuliah karena terbatasnya biaya.

"Bersyukur mendapatkan keringanan biaya dari UGM dan mendapat beasiswa serta rezeki dari arah tak terduga. Bersyukur (juga) bisa lulus tepat waktu dengan nilai yang baik," katanya.

Selesai studi, ia mendapat pekerjaan di salah satu BUMN bidang minyak dan gas. Namun, mimpinya adalah melanjutkan pendidikan di luar negeri untuk mengembangkan teknologi.

Impiannya terwujud saat mendapatkan beasiswa LPDP Kemenkeu. Ia pun memilih studi di Swedia, negara yang dinilainya masuk jajaran paling inovatif di dunia. Gelar master pun diraihnya dari KTH Royal Institute of Technology jurusan Innovation Management and Product Development Agustus 2022 lalu.

Sumber : detik.com

0 comments: